Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

SILAHISABUNGAN : RAJA BIUS SILALAHI NABOLAK DAN KETURUNANNYA

Leave a comment

Tugu Raja Silahisabungan Dilihat dari Danau Toba

Awalnya adalah nama Si Lahi Sabungan. Kata “Si” dibagian depan dalam literatur Toba maupun Melayu merupakan kata imbuhan yang merujuk terhadap sifat maupun keadaan suatu objek/oknum yang dimaksud. Sama halya dalam kata sehari-hari seperti : Si hitam, Si Birong, Si Bungkuk, Si Tolping, Si Bulan dan sebagainya. Si Lahi Sabungan merujuk pada dua sifat /karakter yang tergambar dalam oknum ini, yaitu : “Lahi” ( Pria ) dan “Sabungan” (Perkasa), sehingga makna harafiah yang dimaksud untuk pemilik nama ini dapat dimaknai  manjadi Si Pria Perkasa, yaitu Si Lahi Sabungan yang pada era modern ini di eja menjadi Silahi Sabungan atau Silahisabungan.

Menurut tarombo suku Toba, Silahisabungan berasal dari keturunan Sorbanibanua, yang berdiam di dataran tinggi Toba, kota Balige. Meranjak dewasa, Silahisabungan bersama dua saudaranya ( yaitu Si Paittua dan Si Raja Oloan) kemudian meninggalakn negeri Balige untuk merantau ke negeri asing. Singkat cerita, Si Paittua kemudian memeilih tinggal di negeri Laguboti, kemudian Si Raja Oloan memeilih tinggal di Negeri Pangururan Samosir, dan Si Lahisabungan kemudian memeilih berdiam di negeri Pakpak, Dairi, yang kini disebut negeri Silalahi Nabolak.

Legenda (turi-turian) Si Lahisabungan di Negeri Pakpak Dairi. 

Setelah Raja Pakpak bergelar Raja Perultep, tiba di kampungnya yang bernama Balna, ia segera disambut gembira oleh istri dan anak-anaknya. Mereka heran melihat ikan yang begitu banyak dibawa sang Raja Pakpak. “Dari mana ikan sebanyak ini ? Biasanya bapak membawa daging rusa atau burung, sekarang jadi lain ?, “ kata istrinya, Raja Parultop pun lalu menceritakan pertemuannya dengan seorang pria yang bernama Si Lahisabungan. Raja Pakpak juga akhirnya menjelaskan perjanjian antara dia dan Lahisabungan, tentang janji pertunangan puterinya dengan Lahisabungan.

Istri Raja Parultop merasa gembira mendengar berita itu. Ia lalu berpikir untuk mempersiapkan segala sesuatunya ketika hari  pertunanagan nanti tiba. Hari yang ditentukan pun tiba, Raja Pakpak bersama rombongannya berangkat menyusuri  bukit belantara Pakpak. Saat ini, bukit ini dinamai bukit Lahisabungan, ada pula yang menyebutnya Laksabungan. Raja Pakpak lalu menyalakan api sebagai kode pertanda bahwa mereka sudah datang. Melihat asap api itu, Si Lahisabungan juga menyalakan api tanda balasan bahwa ia telah siap menyambut kedatangan rombongan Raja Pakpak.

Silahisabungan menyambut rombongan Raja Parultop di lembah bukit , ditepian sungai yang agak dalam airnya. Raja Pakpak bertanya dalam hati, mengapa Silahisabungan menyambut kami disungai yang agak dalam airnya ini ? Raja Pakpak tidak menyadari kalau dirinya telah diperdaya Si Lahisabungan. Kemudian Silahisabungan berkata : “ Tulang Raja Nami (paman), suruhlah putrinya menyeberangi sunagi satu -persatu dan akan kupilih yang akan menjadi istriku. Mendengar ucapan Silahisabungan, Raja Parultop terperangah dan akhirnya menyadari mengapa Silahisabungan menyambut mereka ditepi sungai dan menyuruh puterinya menyeberangi sungai satu-persatu sambil menjujung bakul berisitipa-tipa (sejenis makanan tradisonal kuno jaman dulu).

Dari mulai puteri pertama sampai putrid ke enam, semuanya cantik rupawan, rambutnya bagaikan mayang terurai tetapi satupun tidak mengenai dihati Silahisabungan. Saat putri ketujuh memiliki paras sedikit jelek dan mata agak juling, tiba-tiba Silahisabungan melompat menyambut putri ketujuh Raja Pakpak : “ Inilah pilihanku paman, menjadi istriku, mudah – mudahan paman merestui. Semoga Mulajadi Nabolon (Tuhan) memberkati kami menjadi rumah tangga yang bahagia dan mempunyai keturunan yang banyak, “ kata Silahisabungan.

Menutupi rasa malu bahwa Silahisabungan telah menyiasati rencana tipu muslihatnya, Raja Pakpak  lalu bertanya kepada Silahisabungan : “ Mengapa kau pilih putri bungsu ini ? Perawakannya agak pendek dan rupanya pun jelek, padahal semua kakaknya jauh lebih cantik parasnya “. Kemudian Silahisabungan menjawab : “ Raja , memang semua kakak-kakaknya cantik rupanya, tetapi tidak merasa malu tadi menarik sarungnya keatas lututnya sewaktu menyeberangi sungai ini, “ kata Silahisabungan halus. ( konon pada jaman dahulu, seorang perawan adalah tabu untuk menyingkan penutup tubunya, apalagi dihadapan orang tua maupun orang asing. Hal demikian akan dianggap tidak memiliki moral dan sangat tabu ). Yangs sebenarnya Silahisabungan tau bahwa keenam gadis itu adalah manusia jejadian ( jolma so begu ) yang sengaja dibuat Raja Parultop untuk menguji kesaktian Silahisabungan. Tetapi hal itu tidak dinyatakan Silahisabungan secara buka-bukaan supaya jangan mempermalukan Raja Parultop diantara rombongannya. Sejak itu, sungai itu bernama “ Binanga so maila “.

Raja Parultop dan istrinya merestui dan memberkati putri dan menantunya, lalu berkata :
“ Putriku, sejak saat ini aku menamaimu Pingganmatio Padangbatangari, semoga hatimu menjadi jernih dan berhasil dikemudian hari, menjadi istri yang melahirkan anak-anak yang : hebat, gagah perkasa, bijaksana dan menjadi kebanggan semua orang.”

“ Dan untuk menantuku yang baik, engkau memiliki nama Silahisabungan ( red. = anak yang unggul ), unggul dalam perkataan, unggul dalam kepintaran dan unggul dalam kesaktian. Engkau sudah menunjukkan kepinatan dan kesaktianmu dalam menentukan istrimu, semoga kamu berhasil tidak habis-habisnya, diberkati Yang Maha Kuasa, menjadi pemimpin yang besar dan termashyur.”

Setelah memberkati demikian, rombongan Raja Parultop kembali ke Balna, tinggalah Silahisabungan dengan Pingganmatio Padangbatanghari memulai hidup baru dan membuka kampung yang mereka namai Huta Lahi di lereng bukit Lahisabungan. Berselang sembilan bulan, rasa rindu pun mulai bergelora untuk berjumpa dengan orang tuanya. Pingganmatio Padangbatangari lalu mengajak Silahisabungan pergi ke Balla mengunjungi keluarga. Silahisabungan yang sangat sayang kepada isteri tercinta mengabulkan dengan senang hati.

Legenda : Mual Si Paulak Hosa
Ketika Silahisabungan dengan Pingganmatio Padangbatanghari menuju mertuanya di Balna, sewaktu mendaki bukit Lahisabungan, tiba-tiba Pingganmatio Padangbatangari yang tengah hamil tua mulai merasa dahaga sehingga mereka istirahat sejenak dilereng bukit. Rasa haus Pingganmatio makin terasa sampai ia bersenandung dengan sedih : “ Loja ma boruadi mamboan tua sian mulajadi, mauas ma tolonan ndang adong mangubati. Jonok do berengon sillumalan na so dundungonki, boha do parsahatku tu hota ni damang parsinuan, dainang pangintubu i, “ katanya. ( sudah lelah aku membawa kandungan, tak ada yang mengobati rasa haus ini. Tampak nian dekat air danau, tetapi apa daya tangan tak sampai menjangkau. Bilakah aku tiba di rumah bertemu ayah dan ibu ku….. )

Mendengar senandung Pingganmatio Padangbatangari, Silahisabungan lalu mengambil Siorlombing (tombak) lalu berdoa kepada Mulajadi Nabolon agar diberikan air penghidupan ( mual sipaulak Hosa ). Silalahisabungan lalu menancapkan tombak ke tebing batu dan keluarlah air mengucur dengan derasnya dan Pingganmatio minum sepuasnya. Air (pancuran) itulah yang sampai saat ini disebut ”Mual Si Paulak hosa” yang terdapat dilereng bukit Lahisabungan, di Silalalahi Nabolak.

Setelah rasa haus hilang dan tenaga mulai pulih,mereka meneruskan perjalanan menuju mertuanya di Balla. Kedatangan Silalahisabungan dan Pingganmatio disambut keluarga Raja Parultop dengan gembira
apalagi setelah melihat Pingganmatio tengah hamil tua. Karenanya, mertua Silahisabungan meminta agar putrinya tinggal di Balla sampai menunggu kelahiran anaknya, karena di Huta Lahi tidak ada teman mereka membantu. Setelah beberapa bulan mereka tinggal di Balla, Pinggan matio melahirkan seorang anak laki-laki. Silahisabungan merasa gembira dan bersyukur karena dia sudah menjadi seorang ayah. Begitu juga Raja Parultop dan istrinya merasa berbahagia karena sudah ada cucu dari putrinya Pinggan matio. Mereka berencana untuk mengadakan perhelatan besar sambil memberi nama cucunya itu. Rencana itu diberitahukan kepada menantunya Silahisabungan, yang disambut dengan senang hati.

Raja Parultop lalu mengundang Raja-raja dan penduduk negeri untuk menerima adat dari Silahi sabungan sambil menobatkan nama cucu yang baru lahir. Pada pesta perhelatan itu Raja Parultop berkata : “Saudara sekalian, sudah lebih satu tahun puteri kami Pingganmatio berumahtangga dengan Silahisabungan, kini mereka telah dianugerahi Tuhan seorang anak laki-laki. Selama ini kami merasa ragu-ragu karena belum terlaksana adat yang berlaku. Hari ini tibalah saatnya anak menantu kami membayar adat sekaligus memberi nama cucu yang baru lahir dan menobatkan ayahnya menjadi Raja.”
Kemudian Raja Parultop mengatakan : “ Nunga lolo raja, jalanunga loho roha, hubanen ma goar ni pahompu on Si Lihoraja.” ( Sudah berkumpul semua Raja-raja, sudah pula lega hati (liho) ini, maka kami berikan nama cucuku ini Si Lohoraja, katanya.
Kelak putera sulung Silahisabungan, si Lohoraja kemudian dijodohkan (dipaorohan ) dengan putri pamannya (marboruni Tulang), yaitu Ranimbani Padangbatanghari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s