Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

Nangroe Aceh : Segel 17 Gereja

Leave a comment

Di Kabupaten Aceh Singkil, 17 gereja disegel karena dianggap melanggar izin peruntukan. Penyegelan dilakukan gerombolan berjubah yang mengatasnamakan Ormas Islam. Artikel terkait… Klik Di Sini…… Senada keterangan Kepala Pembimbing Masyarakat Katolik, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Baron Ferryson Pandiangan, penyegelan terhadap gereja-gereja mulai dilakukan pada Selasa (1/5/2012). “Hingga kemarin sore, total ada 17 gereja yang sudah disegel,” ujar Baron.

Selain gerbang gereja digembok, tembok gereja juga ditempeli pamflet yang berbunyi bahwa dalam 3 x 24 jam, pemerintah kabupaten harus membongkar bangunan gereja tersebut.

Menurut Baron, gerombolan yang menyegel gereja tersebut menggunakan dalih Surat Keputusan Bersama Dua Menteri tentang Rumah Ibadah; Peraturan Gubernur No 25/2007 tentang Izin Pendirian Rumah Ibadah di Aceh, Qanun Aceh Singkil No 2/2007 tentang Pendirian Rumah Ibadah, dan surat perjanjian bersama antara komunitas Islam dan Kristen dari tiga kecamatan di Aceh Singkil (Kecamatan Simpang Kanan, Kecamatan Gunung Meriah, dan Kecamatan Danau Paris) yang diteken pada 11 Oktober 2001.

Surat perjanjian inilah, menurut Baron, yang sebenarnya menjadi pemantik penyegelan gereja. Dalam surat tersebut disepakati komunitas Kristen hanya boleh mendirikan 1 gereja dan 4 undung-undung/capel (kapel atau tempat doa) di Aceh Singkil. Namun yang terjadi, saat ini ada 22 gereja yang berdiri. Baron mengatakan tak jelas siapa yang meneken perjanjian ini.

Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil mengakui penyegelan gereja-gereja ini karena alasan tidak ada izin peruntukan bangunan. Ketua Tim Penertiban Asisten II Zaenal mengatakan ada 3  gereja (undung-undung) di Kecamatan Danau Paris yang sudah disegel, karena dianggap tak berizin, yakni 2 gedung  Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) di Desa Napagaluh, dan Gereja Katolik Napagaluh. Kemudian penyegelan juga dilakukan terhadap undung-undung Katolik Santo Paulus di Desa Lae Balno.

Sementara GKPPD di Desa Pertabas, Kecamatan Simpang Kanan, urung disegel lantaran ada aspirasi yang dinilai tim penertiban perlu dipertimbangkan. Sebelumnya sempat terjadi negosiasi antara tim penertiban, pengurus gereja, dan kepala desa setempat, disepakati penyegelan ditunda, untuk mencari solusi. “Penyegelan ditunda. Kepala desa dan pihak terkait kami undang melakukan pertemuan, untuk mencari solusi, apalagi waktu yang diberikan 3 x 24 jam masih banyak,” kata Zaenal.

“Yang sudah ditertibkan ada 16, sementara tiga lagi belum ditertibkan, yang ditertibkan semua rumah ibadah yang tidak memiliki izin, kebetulan yang banyak tidak memiliki izin rumah ibadah kecil masyarakat Kristen,” ujar Asisten I Sekdakab Aceh Singkil, Azmi.

SYARIAT ISLAM MELARANG ADANYA GEREJA ?

Tak ada pembenaran yang bisa digunakan untuk menutup ruang kebebasan beragama. Jadi, upaya sebagian oknum menutup tujuh gereja di Singkil, Aceh, adalah benar-benar salah. “Memang Aceh berlandaskan Syariat Islam, namun bukan berarti agama lain tidak boleh ada. Apalagi sampai menutup rumah ibadah. Pada prinsipnya rumah ibadah tidak boleh ditutup,” ujar anggota komisi VIII DPR RI, H. Sajed Zakaria kepada JakartaBagus.Com beberapa waktu lalu (Rabu, 16/5/2012).

KEBIRI NILAI PANCASILA

“Hukum harus ditegakkan. Pemerintah harus berani menindak Ormas yang menutup gereja. Negara harus dapat menjamin seseorang dalam melaksanakan ibadahnya. Jika tidak maka Omas-ormas akan leluasa membuat negara Indonesia ini terpecah,” katanya. Dikatakan Sajed Zakaria lebih jauh, aksi tutup gereja di Singkil, Aceh tak lebih menjadi bukti bahwa nilai-nilai Pancasila telah terkikis baik sebagai jati diri bangsa dan juga sebagai landasan masyarakat dalam hidup berbangsa dan bernegara

UMAT KRISTEN JANGAN TERPANCING POLITIK TEROR

Sabagai pembawa ukhuwah kasih, bisa saja ini merupakan trigger teroro yng memancing umat Kristen di Indonesia bahkan kecaman dunia Internasional. Politik teror kalangan tertentu memilih Aceh Singkil yang tidak jauh dari Kabupaten Dairi Sumatera Utara, yang umumnya merupakan kantong Kristen etnis Batak. Harapan mereka ini akan bisa menjadi konflik dan mereka akan mengeruk berbagai keuntungan dari situasi ini. Pemerintah dan Badan Intelijen Negara seharusnya lebih bertanggungjawab dengan situasi ini, bukan hanya di Nanggroe Aceh Darussalam tetapi seluruh Indonesia. Sudah jelas, Ormas yang terus menerus “mengurusi yang bukan urusannya” ini sebagai alat trigger teror untuk merongrong ke kondusifan Indonesia. Semoga Pemerintah Idonesia dan mesin-mesin politiknya tidak terlibat dengan situasi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s