Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

ASAL MARGA SIPAYUNG

8 Comments

Poda Sagusagu Marlangan Untuk Keturunan Silahisabungan

Berdasarkan tarombo Raja Silahi Sabungan di Huta Silalahi Nabolak, Dairi  , mengurai bahwa Raja Silahi Sabungan  memiliki dua (2) istri dan delapan (8) putra yaitu : Lohoraja, Tungkirraja, Sondiraja, Butarraja, Dabaribaraja, Debangraja, Baturaja, Tambunraja serta satu putri yakni Deang Namora. (Sebagaimana tertulis di Tugu Makam Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak, Kec.Silahisabungan, Dairi, Sumatera Utara).

Adalah Tungkir Raja, memiliki tiga (3) anak, yaitu : Sibagasan, Sipakpahan dan Sipangkar. Adalah Guru Paung keturunan Sibagasan yang memakai marga Paung atau Sipayung. Dari Silalahi Nabolak keturunan Sipayung kemudian merantau ke Samosir dan Simalungun. Di Samosir, keturunan Sipayung bermukim di desa Lumban Sipayung Parbaba bersama keturunan Situngkir yang sudah lebih dulu berdiam di Parbaba, kini sebahagian juga bermukim di sekitar Pangururan Samosir.

Saya pernah membaca tulisan Kerajaan Purba Simalungun yang kemudian mengangkat marga Sipayung sebagai Panglima Goraha ( kepala pasukan kerajaan ) di kerajaan Purba karena kesaktianya. Sang Panglima kemudian dikawinkan dengan parboruon Kerajaan sehingga Sipayung menjadi Boru di Kerajaan Purba. Dari kisah ini kemudian kehadiran marga Sipayung di Kerajaan Purba diakui dan dianggap kerabat dari Kerajaaan Purba kala itu.

Kisah lain dari Simalungun, sebahagian marga Sipayung kemudian ada mengikat perjanjian (padan) dengan marga Sinaga. Sehingga antara marga Sinaga dan Sipayung merupakan satu kesatuan dan diharamkan untuk saling kawin-mengawini ( sampai sekarang ini, perjanjian ini masih berlaku dibeberapa daerah di Simalungun Kahean/Jahe-jahe). Dengan demikian , sejak kesepakan perjanjian itu, keberadaan marga Sipayung di Simalungun tidak dipermasalahkan lagi oleh marga-marga di Simalungun.

Keturunan Sipayung umumnya membumi di Simalungun. Bahkan di daerah Raya Kahean, didapati sebuah perkampungan yang disebut Huta Payung, dimana kampung tersebut hanya dihuni (mayoritas) marga Sipayung. Meski secara tarikh tidak ada fakta yang jelas sejak kapan keberadaan marga Sipayung bermukim disana, yang jelas marga Sipayung sejak lama sudah eksis di Simalungun. Itu sebabnya, marga Sipayung saat ini juga masih banyak didapati sebagai tetua-tetua (sesepuh) kampung ataupun adat di Simalungun.

Di Simalungun, banyak kemudian keturunan Raja Silahi Sabungan dari Silalahi Nabolak seperti Sihaloho, Situngkir, Sigiro, Sidabutar, Sidabariba, dll, kemudian mengganti marganya menjadi Sipayung. Uniknya kemudian ada Sipayung Sihaloho, Sipayung Silalahi, dll.

Pada masa kolonialisme, Belanda meng-eksodus orang bermarga-marga dari dataran tinggi Toba dan Karo ke Simalungun sebagai pekerja perkebunan dan pertanian. Belanda kemudian membuka jalan darat dari Toba ke Simalungun dan Sumatera Timur. Populasi imigran (umumnya dari Toba dan Samosir) ini sangat pesat di Simalungun, sehingga mengakibatkan pengambilalihan tanah-tanah rakyat Simalungun oleh para pendatang dengan bantuan kolonial Belanda, dan hal ini sudah dianggap sangat membahayakan masyarakat Simalungun oleh Raja-raja di Simalungun padawaktu itu. Maka Raja Maropat di Simalungun (yaitu Raja : Raya, Siantar, Tanohjawa dan Purba) mengadakan Harungguan Raja Marompat (rapat besar empat raja) di Pamatang Siantar, yang kemudian mengeluarkan ultimatum : “hanya ada empat marga yang boleh memiliki tanah-tanah di Simalungun”, sedangkan marga-marga lain ( selain : Damanik, Purba, Saragih, Sinaga ) hanya sebagai pemakai atau pengusaha dan harus tunduk dengat aturan-aturan kerajaan Simalungun. Kondisi ini sempat mengakibatkan situasi yang mencekam di Simalungun , karena banyak terjadi pengusiran bahkan pembunuhan suku-suku pendatang di Simalungun. Keberadaan para imigran dilindungi oleh keuatan Kolonial Belanda. Belanda kemudian menjadi geram kepada Raja-raja Simalungun. Belanda kemudian memecah belah kerajaan Melayu Deli. Atas bantuan Sultan Deli, Belanda berhasil menduduki negeri Serdang dan Sipispis Raya Kahean yang merupakan kekuasaan Raja Raya. Dari sini Belanda kemudian merangsak menundukkan satu demi satu Raja-raja di Simalungun lainnya (Siantar, Bandar, Tanohjawa, Raya, Sidamanik, Purba, Silimakuta, Dsb) sehingga tunduk dan terikat dalam aturan kolonial Belanda. Sejak saat itu Raja-raja Di  Simalungun dinyatakan sebagai koloni Kerajaan Belanda.

Kondisi ini sangat berbeda dengan marga pendatang seperti Sipayung, karena marga Sipayung jauh sebelumnnya telah diterima dan memiliki perjanjian darah dengan marga Sinaga. Alhasil, banyak marga-marga keturunan Raja Silahisabungan , seperti marga: Sihaloho, Situngkir, Silalahi dan lain-lain , kemudian mengakuisisi Sipayung dengan mengganti marga mereka menjadi Sipayung. Itu sebabnya kemudian di Simalungun terjadi suatu kebiasaan , jika seseorang bertanya ; “Sipayung apa?” , kemudian dijawab : “ Sipayung Silalahi, Sipayung Sihaloho, Sipayung Sinurat , dan sebagainya”.

Demikian halnya di Tanah Karo, keturunan Silahisabungan kemudian berafiliasi dengan marga Sembiring. Sehingga kemudian ada sebutan marga : Sembiring Sinulaki, Sembiring Keloko, Sembiring Sinupayung, dan sebagainya. Bahkan lebih jauh, setelah ikatan perjanjian darah antara Sipayung dan Sinaga, banyak kemudian terjadi pertukaran marga karena umumnya beranggapan bahwa marga mereka adalah sama. Marga Sipayung kemudian mengganti marganya dengan Sinaga dan sebaliknya.

Akibat kelamnya masa lalu tersebut, Sipayung di Simalungun  kemudian menjadi membatasi diri dan sampai hubungan kerabat di Bonapasogit akhirnya terputus. Alhasil, asal-usul Sipayung di Simalungun umumnya tidak dimengerti oleh keturunannya karena enggan (memilukan) untuk diceritakan.

Ini merupakan fenomena dan jangan menjadi penghalang, terlebih apabila bertemu dengan marga Sipayung dari  Samosir yang umumnya agak mengecilkan keberadaan Sipayung dari Simalungun.

Ketika terjadi Revolusi Sosial di Simalugun (Maret 1946), dimana penguasa di Simalungun (Raja, Tuan) dan kerajaan-kerajaan di Simalungun dibumi hanguskan ( dibakar dan dibantai dalam pembunuhan massal ) oleh para pemberontak (revolusioner) pro-kemerdekaan yang menuntut sistem kerajaan (feodalisme) dihapuskan di Sumatera Timur ( termasuk Simalungun ) dan segera menjadikan sistem pemerintahan Negara Sumatera Timur. Hanya dalam waktu semalam, kebiadaban itu terjadi. Beberapa kerajaan dan keluarga kerjaaan ,  Raja dan Tuan-tuan di Simalungun lenyap diculik dan dibunuh.

Pasca revolusi sosial, kemudian marga-marga pendatang yang sempat berafiliasi dengan marga-marga Simalungun kemudian memisahkan diri lagi dan kembali kepada klan marga-marga aslinya. Demikian halnya dengan marga-marga Sihaloho, Situngkir, Sinurat. Namun tidak sedikit pula yang tetap mempertahankan marga Sipayung sebagai marga keturunannya dan sampai sekarang ini keberadaan Sipayung di Simalungun sudah tidak ada bedanya sebagaimana keberadaan marga Damanik, Purba, Saragih dan Sinaga di Simalungun. Karena kelamnya masa lalu tersebut, sehingga marga-marga ini harus mengganti marga mereka. Meski pada dasarnya mereka adalah satu keturunan, dari Silahisabungan.

Hanya saat ini , masih banyak marga-marga Sipayung belum begitu jelas akan kisah ini sehingga belakangan ini keturunan Sipayung banyak yang kemudian enggan menerima keberadaan mereka sebagai Pomparanni Raja Silahisabungan karena memang mereka telah dilahirkan oleh Simalungun dan menjadi bagian dari darah-daging Simalungun.

@ bunganabontar

8 thoughts on “ASAL MARGA SIPAYUNG

  1. Benar itu kalau boleh cerita seperti ini kita buat satu buku yang merupakan bukti sejarah. Apalagi ada surat resmi raja simalungun yang mengeluarkan peraturan tersebut. Memang harus kita akui bahwa sejarah dan kehidupan berjalan selalu beriringan. Kalau benar ini , alangkah lebih sempurna kalau kita buat dalam satu buku. Untuk dibaca para keturunan Raja Silahisabungan.

  2. Saya berniat untuk itu Amangtua, skrang aku masih mengumpulkan data-data. Dalam waktu dekat ini aku mau mau melakukan observasi lagi ke Silalahi , Dairi.
    Nanti siap jadi sponsor kan Amangtua ? he…he

  3. Saya pandapotan sipayung Situngkir dari simalungun atas.

    Maaf sebelumnya,sanina saya mau tanya di pemaparan sanina di atas menjelaskan bahwa Marga Sidabutar adalah keturunan dari Butar Raja, setau Saya marga Sidabutar adalah Salah Satu Dari Bagian SIOPAT AMA (sidabutar,sijabat,sidabalok,siadari).

    Mohon penjelasannya terima kasih.
    Pandapotan sipayung

  4. tapi ada yg tidak ku mengerti..ada banhyak sipayung yang menyebut dirinya sinaga dan sebaliknya…mohon penjelasan,mauliate

  5. pandapotan sipayung :

    Saya pandapotan sipayung Situngkir dari simalungun atas.

    Maaf sebelumnya,sanina saya mau tanya di pemaparan sanina di atas menjelaskan bahwa Marga Sidabutar adalah keturunan dari Butar Raja, setau Saya marga Sidabutar adalah Salah Satu Dari Bagian SIOPAT AMA (sidabutar,sijabat,sidabalok,siadari).

    Mohon penjelasannya terima kasih.
    Pandapotan sipayung

    Horas hubani nasiam sanina nami hun SImalungun Atas. Ija do hutanta ijai sanina ? Ia apala dohor no namin hun hutanta hu Silalahi Na Bolak atene. Domma ongga ham hun jai ?
    Tongon do nini ham ai, tapi anggo ongga do ham nun Silalahi Na Bolak, pasti ibotoh ham do sonaha tording ni ai. Memang sonari hun Silalahi Na Bolak buei tumangan homa na mamakei morga Silalahi, Sonai homa i Simalungun, gabe ibanen use morgani Sipayung age hinan han Situngkir so namin atap Sidabariba atai Sidabutar do ia hun Silalahi Na Bolak. Tapi ase pangkei namin hita pabotohkon turi-turian on. Buei tumpuan nami SIpayung ijon par Soping, Haranggaol, Saribu Dolok, Purba, ibotoh bei do asal ni sidea. Asong Situngkir, adong Sidabutar, asong do Sidabariba. Tapi hanami rupma sonari bani Tumpuan Sipayung.
    Ai so noma Sidabutar na Hun Silalahi Na Bolak gabe Sinabutar ibehenni morgani i Samosir. Tapi adong homado Silalahi Sinabutar pomparanni Raja Parmahan Silalahi hun Balige on na marrantou tong hu Samosir.
    Sonai ma lobei na boi hu patorang Sanina, Horas ma.

  6. hotbin haloho :

    tapi ada yg tidak ku mengerti..ada banhyak sipayung yang menyebut dirinya sinaga dan sebaliknya…mohon penjelasan,mauliate

    Ini terjadi di diapora Simalungun ya Abang ? Jamak di Simalungun, bukan hanya Sinaga, tetapi Sihaloho atau Haloho juga banyak yang berganti marga menjadi Sipayung. Tapi ini asalah dinamika dan perlu dipaparkanuntuk diketahui orang banyak dan kemudian di luruskan, tapi buakn untuk konsumsi polemik.
    Horas Abanganda >>

  7. ya benar di simalungun,ada pengalaman pribadi sy ketemu marga sinaga(yg sy tahu sinaga)bahkan seluruh keluarganya sinaga.tp dia mengaku marga sipayung jelas sy bingung dan dia memperlihatkan ktp terulis marga sipayung..yang aku tanyakan bisakah orang batak memakai dua marga…?

  8. pake 2 marga akan jadi lebih aneh bang….. ini miss leading (mungkin karena faktor situasi dan kondisi dahulu kala) … tentukan satu marga saja kali ya… supaya ga jd contoh yg agak lucu… bila penting ganti identitas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s