Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

BIUS GODANG BALIGERAJA (BALIGE)

1 Comment

HODONG DO PAHU, HOLI-HOLI SAKKALIA.  HODO AHU, HITA NA MARSADA INA

Dalam Tarombo Batak, generasi  Tuan Sorimangaraja II dari istrinya Nantuan Dihutarea ialah :  (1) Sibagot Ni Pohan ,  (2) Sipaittua , (3) Silahisabungan , (4) Siraja Oloan , (5) Raja Hutalima

Kemudian dari istri yang kedua Boru Basopaet ialah  (1) Sumba , (2) Sobu , (3) Pospos

Semua generasi ini awalnya diam dan berkembang di negeri Baligeraja, yang juga dinekal sebagai negeri Toba saat ini. Setelah Tuan Sorimangaraja II mangkat, maka sebagai ahli waris mahkota ialah anak sulung, yaitu Sibagot Ni Pohan. Sebagai pemimpin, Sibagot Ni Pohan dikenal  seorang yang bijaksana, baik dalam menjalankan hukum-hukum adat sosial dan menjadi tauladan bagi adik-adiknya serta keturunannya.

BIUS GODANG BALIGERAJA

Sibagot Ni Pohan memiliki empat (4) anak , yaitu   (1) Tuan Sihubil , (2) Tuan Somanimbil , (3) Tuan Dibangarna , (4) Raja Sonakmalela. Kemudian timbullah niatan serta gagasan Sibagot Ni Pohan untuk menetapkan kedaulatan wilayah-wilayah kekuasaannya di Baligeraja. Sibagot Ni Pohan kemudian merencanakan pemetaan wilayah dengan suatu perhelatan pesta raya ( Horja Bius Saktirea ) untuk meresmikan kedaulatan tersebut. Baligeraja ditetapkan sebagai pusat kota kerajaan dan pemerintahan.

TRIAS POLITICA  TOBA

Sibagot Ni Pohan menetapkan kedaulatan 3 golongan jabatan  dan kekuasaan  sebagai berikut :

* Golongan Pertama ( Tinggi ).  Meraka ini merupakan gologan tinggi kerajaan dan pemimpin tertinggi dalam ritual aliran kepercayaan Parmalim (Agama Batak).

– Pertama ialah jabatan dan kekuasaan Pande Nabolon, dipangku Tuan Sihubil dan keturunannya. – Kedua ialah jabatan dan kekuasaan Pande Raja, dipangku oleh  Tuan Somanimbil dan Keturunannya. – Ketiga ialah jabatan dan kekuasaan  Pande Mulia, dipangku oleh Tuan Dibangarna dan keturunnya. Keempat ialah jabatan dan kekuasaan  Pande Namora, dipangku  Raja Sonakmalela dan keturunannya.

* Golongan Kedua ( Menengah ).

– Pertama, jabatan dan kekuasaan Saniangnaga, dijabat oleh golongan Pande Nabolon. – Kedua, jabatan dan kekuasaan Parsinabul (Hinalang), dijabat oleh golongan Pande Raja. –Ketiga, jabatan dan kekuasaan Parsirambe (Patuatgaja), dijabat oleh golongan Pande Mulia. – Keempat, jabatan dan kekuasaan Mamburbulang (Parjuguk), dijabat oleh golongan Pande Namora.

* Golongan Ketiga ( Bawah ). Mereka ini merupakan pejabat menengah kerajaan yang

– Pertama, jabatan dan kekuasaan Undotsolu (Raja Laut) yang menguasai lautan. – Kedua, jabatan dan kekuasaan Panguluraja (Ulu Porang) yaitu yang menguasai taktik dan persenjataan  Perang. – Ketiga, jabatan dan kekuasaan Pande Aek (Parhauma), yaitu yang menguasai bidang pertanian dan pengairan. – Keempat, jabatan dan kekuasaan Panguludalu (Parpinahanon), yang menguasai bidang perternakan.

Melihat komposisi tatanan ini, ketiga adik Sibagot Ni Pohan menjadi curiga dan penuh tanda tanya. Keberadaan mereka tidak termasuk dalam jabatan maupun gologan yang telah ditetapkan oleh sang Kakak, Sibagot Ni Pohan.

Waktu pelaksaaan Pesta Raya ( Saktirea ) telah pula ditetapkan. Untuk mempersiapkan acara tersebut, Sibagot Ni Pohan kemudian memanggil ketiga adiknya dan malah membagi tugas-tugas mereka masing-masing, yaitu mencari kebutuhan dan perbekalan-perbekalan untuk perayaan Pesta Raya Saktirea ke hutan. Melihat gelagat ini, adik-adiknya kemudian menjadi semakin curiga namun tetap melaksankan tugas yang telah dibebankan kepada mereka. Mereka tidak mengira tugas yang seharusnya tidak pantas mereka lakukan diberikan oleh Sibagot Ni Pohan kepada mereka.

Ketiga adiknya lalu sepakat untuk  pergi meninggalkan Baligeraja bersama-sama menyususri bukit hutan belantara Toba sekaligus mereka akan melihat-lihat kondisi belantara untuk mereka diami kelak apabila harus pergi dan meninggalkan Baligeraja. Mereka lalu sepakat bahwa yang terlebih dahulu menentukan pilihan ialah sesuai urutan usia mereka. Sehingga urutannya ialah Sipaittua, Silahisabungan dan Siraja Oloan.

SIPAITTUA MIMILIH DAERAH (SEKARANG) LAGUBOTI.

Ketika ketiga kakak-beradik ini menyusuri hutan bukit arah utara ( sekitar Laguboti saat ini ) Sipaittua terkesan dan menyatakan akan diam didaerah ini. Kemudian mereka menuruni bukit dan menuju arah utara menyusuri danau Toba.

SILAHISABUNGAN MEMILIH SILALAHI NABOLAK.

Mereka menepikan perahu mereka disebuah teluk  ( daerah teluk Tao Silalahi sekarang ini ) Silahisabungan terkesan dan memilih akan diam di tempat ini.

SIRAJA OLOAN MEMILIH TANO PONGGOL PANGURURAN.

Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri danau Toba. Ketika mereka melintasi Tano Ponggol (Pangururan) dan menepikan perahu disana, Siraja Oloan kemudian tereksan dan menyakan akan diam didaerah ini.

Demikianlah Sipaeitua, Silahisabungan, Siraja Oloan telah memilih daerah pilihan mereka masing. Mereka kemudian kembali menuju Baligeraja sekaligus mencari dan membawa apa yang telah ditugaskan oleh Sibagot Ni Pohan kepada mereka. Mengingat waktu perjalanan yang telah mereka lalui telah cukup lama, mereka juga akhirnya beranggapan bahwa Sibagot Ni Pohan telah melaksanakan Pesta Raya “Saktirea” meski tanpa kehadiran mereka di Baligeraja.

Singkat cerita, ketiga kaka-beradik ini akhirnya menemui Sibagot i Pohan dan melakkan protes keras. Pertikaian dan silang pendapat pun terjadi diantara Sinagot Ni Pohan dan ketiga adik-adiknya. Puncaknya, Silahisabungan yang bersikeras bersumpah tidak akan melihat Sibagot Ni Pohan sepanang hidupnya dan angkat kakai dari tanah lelehurnya, Baligeraja. Sikapa Silahisabungan didikuti olah Sipaettua dan Raja Oloan. Mereka bertiga kemudian angkat kaki dari Baligeraja menuju tempat yang telah mereka tentukan masing-masing sebelumnya.

Sampai hari ini, keturunan Sipaetua berkembang di daerah Laguboti, keturunan Silahisabungan di Silalahi Nabolak, keturunan Siraja Oloan di Pangururan dan Bakkara.

One thought on “BIUS GODANG BALIGERAJA (BALIGE)

  1. Hanya sedikit komentar, perlu dievaluasi apakah Tano Ponggol sudah ada jaman Si Raja Oloan? Menurut saya Tano Ponggol adalah tanah yg dipenggal (sekitar 500 meter) sehingga Pulo Samosir menjadi sah dikelilingi Danau Toba. Catatan: awalnya Pulo Samosir menempel ke Pulau Sumatera sebelum tanah penghubungnya dipenggal (tano na diponggol = tano ponggol)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s