Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

SILAHISABUNGAN : RAJA DAN LELUHUR NEGERI SILALAHI NABOLAK

1 Comment

SILAHISABUNGAN SILALAHI NABOLAK SILSILAH MARGA

Raja Silahisabungan adalah salah sau putra dari Sorbadi Banua , cucu Siraja Batak, yang lahir dan dibesarkan di Lumban Gorat, Balige. Konon Tuan Sorbadi Banua memiliki 4 putra, yaitu : Sibagotni Pohan, Silahisabungan, Sipaittua dan Siraja Oloan. Sibagotni Pohan bertahan bermukim di Balige. Silahisabungan, Sipaittua dan Siraja Oloan kemudian merantau mencari tempat tinggal masing-masing, keluar dari Toba Holbung – Balige. Siraja Oloan memilih tinggal di sekitar Laguboti. Sipaittua kemudian memilih menetap di Pangururan Samosir dan tetapi kemudian berpindah ke Bakkara, sementara Raja Silahisabungan kemudian memilih menetap di Silalahi Nabolak, yang awalnya bernama Huta Lahi, tanah belantara Pakpak. Belakangan, belantara tersebut dinamai Silalahi Nabolak, sehingga danaunya juga dinamai Tao Silalahi. Kelak, karena besarnya jumlah keturunan dan luasnya area pemukiman anak-anak dan cucu dai Raja Silahisabungan ini kemudian dinamai Silalahi Nabolak ( saat ini Kecamatan Silahisabungan merupakan teritori Kabupaten Dairi, Sumatera Utara).

Pada jaman pendudukan kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-18, negeri Silalahi Nabolak kemudian dimasukkan kedalam teritori administratif (residen) Karo-Simalungun yang berpusat di Saribudolok waktu itu. Namun kemudian terpisah dan sejak kemerdekaan NKRI, kawasan Silalahi Nabolak masuk dalam teritori kabupaten Pak-pak Dairi, sebagai Kecamatan Silahisabungan. Silahisabungan kemudian menikah dengan putri Raja Parultep Padangbatangari, yaitu Pingganmatio Padangbatangari (red:  Saya menyakini Padangbatangari bukanlah marga klan, karena pada jaman ini belum ada marga-marga, sebagaimana Silahisabungan juga belum memiliki marga sebagaimana keturunannya  saat ini  ). Silahisabungan kemudian memiliki 7 putra dan satu putri dari pernikahannya dengan Pingganmatio Padangbatangari, yaitu Lohoraja, Tungkirraja, Sondiraja, Butarraja, Dabaribaraja, Debangraja, Baturaja, sedang sang putri semata wayang bernama Deang Namora.

Saya menyakini Padangbatangari bukanlah marga klan, karena pada jaman ini belum ada marga-marga, sebagaimana Silahisabungan juga belum memiliki marga sebagaimana keturunannya  saat ini  

Negeri Silalahi Nabolak kemudian dibagi menurut  7 anak-anak Silahisabungan dan menamai masing-masing negeri (lumban) menurut nama-nama ketujuh anak-anaknya pula. Pada dekade ini, Tambunraja belumlah lahir dan sebab inilah kemudian nama Tambunraja belum termasuk dalam pembagian wilayah (bius) di Bius Parsanggaran Silalahi Nabolak. Tambunraja terlahir ketika usia Silahisabungan telah ujur.

KISAH TAMBUNRAJA

Sosok Silahisabungan adalah seorang yang kesohor dengan kesaktiannya dan kemampuannya dalam mengobati berbagai penyakit ( disebut juga Datu Bolon ). Suatu waktu, Raja Nairasaon di negeri Sibisa tengah resah dengan sakit yang diderita putrinya, Siboru Nailing, karena Soboru Nailing telah ditunangkan dan akan segera menikah. Pada saat itulah Raja Nairasaon meminta Silahisabungan untuk berkenan mengobati putrinya. Silahisabungan melihat sakit Siboru Nailing sangatlah berat sehingga memerlukan syarat yang berat pula, yaitu jika kelak sang putri menjadi sembuh maka sang putri haruslah dinikahi oleh Silahisabungan. Selain terpaut usia yang  jauh berbeda, Raja Nairasaon dengan terpaksa menyangupi permintaan Silahisabungan dengan kesepakatan apabila kelak tunangan Siboru Nailing datang maka Siahisabungan harus menceraikan Siboru Nailing. Singkat kisah, Siboru Nailing kemudian sembuh dan dikawini Silahisabungan. Namun apa daya, ketika Siboru Nailing mengandung dan melahirkan, Raja Nairasaon mendapat berita bahwa sang Tunangan Siboru Nailing telah hampir tiba dibisa untuk melamat Siboru Nailing. Siboboru nailing memeiliki saudara laki-laki bernana Raja Mangarerak, yaitu leluhur marga Manurung. Sesuai kesepakatan maka sang bayi yang baru saja dilahirkan Siboru Nailiing kemudian dibawa Silahisabungan dan mereka kemudian meninggalkan negeri Sibisa. Silahisabungan kemudian membawa sang bayi kembali ke Silalahi Nabolak. Sang bayi kemudian diberi nama Tamburaja. Keturunan (anak) Silahisabungan kemudian menjadi Delapan putra dan Satu putri. Tambunraja bertumbuh  deawasa di Silalahi Nabolak. Namun kemudian, Tambunraja meminta izin supaya ia diperkenankan menemui ibu yang telah melahirkannya dinegeri Sibisa. Setelah mendapat pertimbangan , Silahisabungan mengizinkan Tambunraja meninggalkan Silalahi Nabolak menuju ke Sibisa.  Di Sibisa, Tambunraja kemudian menikahi putri Raja Mangarerak ( Manurung ) , pamannya. Tambunraja kemudian dikenal dengan nama Raja Tambun di negeri Sibisa. Raja Tambun dan keturunannya kemudian menetap di Sibisa, terpisah dengan kakak-kakanya di Silalahi Nabolak.

PODA SAGU-SAGU MARLANGAN

Dihadapan Raja Silahisabungan dan ampang Sagu-sagu Marlangan , ini ialah  ikrar antara anak-anak Silahisabungan terhadap Tambunraja, setelah Tambunraja mengambil keputusan bulat untuk meninggalkan Silalahi Nabolak menuju Sibisa. Karena Silahisabungan ingin kelak diantara 8 anak-anaknya mengetahui dan menghidupi ikatan ini bahwa keturunan Tambunraja atau Raja Tambun adalah keturunan sedarah Silahisabungan sebagaimana keturunannya yang berdiam di Silalahi Nabolak. Dan terbukti sampai saat ini, keutuhan dan kesatuan diantara keturunan ke 8 anak-anak Silahisabungan ini masih eksis dilaksanakan oleh masing-masing keturunan Raja Silahisabungan.

MARGA-MARGA KETURUNAN RAJA SILAHISABUNGAN

Pasca dekade Poda Sagu-sagu Marlangan, maka masing-masing keturunan Silahisabungan akhirnya tergolong dalam marga-marga. Satu hal yang berbeda dengan umumnya komunitas di Toba, marga-marga satu keturunan telah saling mengawini. Hal ini dapat difahami mengingat geografis Toba sebelumnya adalah daerah pegunungan dan terisolasi. Contohnya keturunan Lontung. Borbor, Naipospos dan lainnya, mereka mekipun  satu leluhur namun telah saling kawin-mengawini. Itu sebabnya kelompok klan Toba umumnya menamakan ikatan kelompok keturunan dengan istilah Toga.

Berbeda dengan keturunan Silahisabungan yang tidak akan peral mengenal istilah “toga” karena sesama mereka adalah satu darah, darah Silahisabungan yag tidak boleh saling kawin-mengawini. Berikut marga-marga keturunan Silahisabunan, secara berurutan : Lohoraja , menurunkan marga : Sihaloho Tungkirraja , meurunkan marga : Situngkir, Sipangkar, Sipayung. Sondiraja, menurunkan marga : Rumasondi, Rumasingap, Silalahi, Sinabutar, Naiborhu, Sinabang, Nadapdap, Doloksaribu, Sinurat. Butarraja, menurunkan marga : Sidabutar Dabaribaraja, menurunkan marga : Sidabariba Debangraja , menurunkan marga : Sidebang Baturaja , menurunkan marga : Pintubatu dan Sigiro Raja Tambun, menurunkan matga : Tambun dan Tambunan.

MARGA SILALAHI

Kecuali keturunan Tambunraja alias Raja Tambun, seluruh keturunan Silahisabungan dari Silalahi Nabolak banyak pula memamakai marga Silalahi setelah mereka merantau. Sehingga pemakaian marga Silalahi identik dengan marga kesatuan yang umumnya banyak dipakai semua keturunan Silahisabungan diluar Silalahi Nabolak. Dan ini adalah kenyataan, seperti di Toba Balige, marga Silalahi dipakai oleh Raja Parmahan ata Raja Bunga-bunga, keturunan Rumasondi. Di Samosir, marga Silalahi dipakai keturunan Debangraja di Pangururan dan Tolping. Di Simalungun, Pakpak, Ksro, marga Silalahi dipakai oleh keturunan Silahaloho, Situngkir, Sidabutar, Sidabaraiba, Sidebang, Pintubatu atau Sigiro. Namun yang pasti, ketika dalam pergaulan sesama keturunan Silahisabungan, masing masing mereka memahami dan mengetahui keberadaaan dan posisinya satu sama lain.

Marga Silalahi identik dengan marga kesatuan yang umumnya banyak dipakai semua keturunan Silahisabungan diluar Silalahi Nabolak

SILALAHI RAJA KLAIM ANAK SULUNG

Ada komunitas Silalahi yang menolak  keberadaan Raja Silahisabungan dengan 2 Istri. Keturunan kelompok Silalahi ini seringkali berpolemik dan seolah-olah mereka adalah kelompok yang paling berhak pemilik marga Silalahi. Jelas saja, arogansi sikap mereka ditolak keturunan Raja Silahisabungan yang umumnya keturunan Silalahi Nabolak. Modus operandi mereka juga terkesan tidak bersahabat, baik itu di dunia nyata dan dunia maya. Propaganda didunia maya kelompok ini juga sangat paranoid. Saya sangat setuju supaya dalam persatuan perkumpulan Pomparan Raja Silahisabungan diseluruh jagad supaya selalau menegaskan Poda Sagu-sagu Marlangan (PSM) dan Tarombo Silalahi Nabolak sebagai asas paguyuban keturunan Raja Silahisabungan. Karena banyak modus dan cara-cara yang kelompok ini lakukan, menyusup dan menyamar masuk dalam persatuan Punguan Silahisabungan namun terkesan sangat tidak koorperatif dan terkesan sumber kisruh.

Kita patut mengargai perbedaan pemikiran dan perbedaan dengan elegan dan lebih manusiawi. Justru ini merupakan tantangan kepada kita seluruh keturunan Raja Silahisabungan, terutama keturunan Raja Tambun yang seljauh ini telah berhasil meeka pecah belah pasca pembangunan Tugu Raja Tambun di Sibisa yang sampai saat ini menjadi terbengkalai karena perpecahan pendapat dinatara keturunan Raja Tambun. Disinyalir, kelompok Silalahi Raja telah memperdaya keturunan Raja Tambun ini sampai saat ini. Kita Berharap keturunan Raja Tambun menyadari ini dan sekaligus dapat memperbaiki sikap dan paradigma. Konon Keturunan Raja Tambun mejadi terbelah pendapat, sebagian pro Silalahi Raja dan sebahagian lahi kontra Silalahi Raja.

One thought on “SILAHISABUNGAN : RAJA DAN LELUHUR NEGERI SILALAHI NABOLAK

  1. kok beda yah ama di tugu raja parmahan yah, gambarnya itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s