Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

Silalahi, Raja Parboruon Klan Simbolon di Pangururan

1 Comment

Sejak awal , Silalahi Nabolak adalah satu-satunya bius / bona pasogit keturunan Raja Silahisabungan dikenal khalayak disekitar Pakpak Dairi, Angkola Mandailing, Samosir , Karo dan Simalungun. Jauh sejak awal, ketika keturunan Raja Silahisabungan merantau keluar dari Silalahi Nabolak, mereka sering dipanggil sesuai negeri asalnya yang lebih dikenal familiar, yaitu Silalahi. Alhasil , dalam proses waktu dan administrasi maka pemakaian nama Silalahi berkembang menjadi marga, terutama di negeri perantauan Simalungun, Dairi, Karo dan Samosir. Itu sebabnya, beberapa marga keturunan Raja Silahisabungan dari Silalahi Nabolak, seperti : Sihaloho, Situngkir, Sidebang, Pintu Batu, dan lainya, karena adanya sebutan Silalahi kepada mereka ( sebagai perantau dari negeri Silalahi ) diperantauan , seiring waktu banyak kemudian menjadikan Silalahi sebagai marga dalam tertib administrasi kependudukan. Dan ada semacam konsensus internal antar sesama keturunan Raja Silahi Sabungan , bahwa  semua keturunan Raja Silahi Sabungan berhak memakai marga Silalahi, sesuai nama tanah asal mereka, yaitu Silalahi Nabolak. Atau umumnya, keturunan Raja Silahisabungan dari Silalahi Nabolak mengakuisisi bahwa Silalahi sebagai MARGA PARSADAAN keturunan Silahisabungan di perantauan , sampai saat ini.
Hal ini kemudian terbukti dengan adanya marga Silalahi keturunan Sihaloho, Situngkir, atau lainnnya. Artinya, masing-masing mengerti dan memahami kejelasan asal-muasal klan marga mereka. Hal ini sangat diperlukan dan akan penting ketika terkait hubungan Tutur (pangggilan antar keturunan / kekerabatan) maupun dalam hubungan adat.

LOGO PUNGUAN POMP. RAJA SILAHI SABUNGAN

Ini bukanlah masalah inkonsistensi dalam hal pemakaian marga keturunan. Pemakaian marga Silalahi sama sekali tidak menjadi masalah bagi 7 (delapan) keturunan Raja Silahisabungan, yang menyatakan identitas mereka sebagai keturunan yang berasal dari Silalahi Nabolak. Tidak ada alasan untuk membatasi pemakaian marga Silalahi bagi keturunan Raja Silahisabungan. Justru pemakaian marga Silalahi juga mempertegas bahwa seseorang itu adalah salah satu keturunan dari tanah (bius) Silalahi Nabolak. Demikian juga dengan Keberadaan Silalahi di Toba Holbung ( Balige ) dan Samosir yang pada awalnnya adalah identitas yang awam untuk menyatakan mereka sebagai orang-orang perantau (pendatang) dari Silalahi Nabolak. Jelas akan berbeda dengan keturunan Tambunraja atau Siraja Tambunn, keturunan mereka tidak pernah memakai Silalahi karena memang secara defacto mereka tidak berkembang di Silalahi Nabolak, tetapi di Sibisa.

Belakangan marak informasi yang sengaja digagas yang mengatakan keberadaan marga Silalahi sebagai anak tertua dari Silahi sabungan di Panguruan dan Tolping Samosir. Demikian dengan ingkaran yang menyatakan bahwa Raja Silahi sabungan memilki 3 isteri dan sembilan anak, dimana Silahiraja sebagai anak tertua. Saatnya kita tidak usah terpengaruh namun baik-baik mencerna dan memehami. Belakangan, kelompok marga Silalahi ini  menyatakan diri sebagai Silalahi Asli atau Silalahi Raja. Sejauh ini, propaganda mereka adalah rekomendasi dari klan Parsadaan Pinompar Naiambaton (PARNA) , klan Simbolon, yang menyatakan Silalahi Raja Parboruon (Boru Sihabolonan) dari klan marga Simbolon di Pangruruan. Klan Silalahi ini telah salah menterjemahkan pernyataan klan Simbolon. Yang menjadi Raja Parboruonklan Simbolon adalah marga Silalahi bukan Raja Silahisabungan. Artinya yang menikahi putri klan Simbolon ialah marga Silalahi, bukan Raja Silahisabungan.

Bila ditinjau dari keberadaan kompsisi marga-marga di Bius Sitolu Hae Pangururan, Samosir. Keberadaan marga Silalahi termasuk dalam kategori marga pendatang. Hal ini terlihat jelas dari posisi marga Silalahi sebagai Raja Boru diantara marga Raja Tanah (Partano Golat) atau marga Suhut ni huta di negeri Bius Pangururan yang disebut Sitolu Hae Horbo , yaitu  : Marga Naibaho, Marga Sitanggang dan Marga Simbolon

Dari marga tanah ( suhut ni huta ) inilah kemudian terbentuk Raja Partali dari cabang tiap – tiap marga atau marga pendatang yang menjadi bagian marga Suhut ni huta , misalnya : Dari marga Naibaho, dibentuk Raja Partali Naibaho Siahaan, Hutaparik, Sitangkaran, Sidauruk, dan Siagian. Dari Marga Sitanggang, dibentuk Raja Partali Sitanggang, Sigalingging, Malau, dan Sinurat. Dari Marga simbolon, dibentuk Raja Partali Simbolon, Tamba, Nadeak, dan Silalahi.

( Perhatikan : Pada fase ikatan Bius Sitolu Hae di Pangururan, posisi marga Silalahi dan Sinurat adalah sama / selevel ). Artinya Silalahi adalah satu generasi dengan Sinurat, yaitu cicit Raja Silahsabungan.

Fakta hubungan sosial marga Silalahi dengan marga Simbolon di Bius Pangururan  memposisikan rendahnya tingkat marga Silalahi di Bius Pangururan, hal ini  karena marga Silalahi adalah pendatang di Bius Pangururan dan itupun  kemudian hanya menjadi Raja Boru dari Simbolon tertentu saja, ini artinya tidak semua marga Simbolon memiliki hubungan kekerabatan (tutur) Boru kepada marga Silalahi di Pangururan.

Selain itu, pada BIUS sitolu Hae, kita perhatikan ada marga Sinurat dan Silalahi ( keturunan Raja Silahi Sabungan ). Kita tau, Sinurat merupakan generasi (cucu ) dari Sondiraja. Artinya, Sinurat dan Silalahi sebagai pendatang ( boru ) di Pangururan adalah fakta dalam fase waktu yang sama. Artinya, marga Silalahi tidak lebih dulu ada di Pangururan, karena Bius Sitolu Hae merupakan pengukuhan keberadaan kaum-kaum di ( Bius ) Pangururan. Hal ini juga jelas bahwa Simbolon yang mengakui keberadaan Silalahi sebagai Boru Sihabolonan klan Simbolon di Pangururan, bukan Raja Silahi Sabungan, sebagai mana yang sering dikatakan kelompok Silalahi Raja.

Sama halnya dengan keberadaan marga Silalahi di Tolping, Ambarita Samosoir. Awalnya negeri Tolping merupakan bagian dari Bius Ambarita yang dimiliki oleh Klan Nai Ambaton. Dari komposisi marga-marga yang secara sah mendiami tanah Tolping diketahui pula bahwa mereka adalah marga-marga pendahulu yang mendiami negeri tersebut. Itu sebabnya mereka disebut dengan SIPUKKA HUTA dalam satu BIUS. Kelompok BIUS adalah pemangku sah akan tanah-tanah di seluruh bius (negeri) tersebut. Dan ini bukam sembarang , karena pembentukan satu BIUS dilakukan dengan hati-hati (sakral) dan terhormat.

Komposi marga-marga SUHUT di ranah [golat] TOLPING, Ambarita, Samosir, dikuasai oleh campuran berbagai marga, di antaranya : Raja Bona ni Ari, dipangku marga Sihaloho, Raja Pande Nabolon, dipangku marga Silalahi, Raja Panuturi, dipangku marga Silalahi, Raja Panullang, dipangku marga Sigiro, Raja Bulangan, dipangku Marga Sidabutar (Nai Ambaton ), Raja Pangkombari, dipangku marga Siallagan

Tidak ada gambaran yang menyatakan bahwa Tolping merupakan negeri yang dikuasai klan Silalahi Raja Tolping. Asal mula marga Silalahi di Tolping  diawali dari Siraja Tolping  yaitu keturunan keturunan Raja Partada bermaga Silalahi. Raja Partada ialah anak dari Bursokraja ( red. Bursokraja adalah keturunan Debang Raja yang  meninggalkan Silalahi Nabolak dan merantau ke Panguruan dan menamai dirinya Ompu Sinabang alias Ompu Lahisabungan).  Sampai saat ini, makam / tambak Ompu Lahisabungan ada di Dolok Parmasan ( tanah pebukitan khusus tempat pekuburan ) di Pangururan , Samosir. Keturunan Raja Partada kemudian memakai Silalahi.  Jamaknya keturunan Silahisabungan yang telah mendiami Tolping sehingga saat ini, dari Tolping Ambarita sampai ke Parbaba , Buhit, Pasir Putih dan Pangururan, marga-marga keturunan Raja Silahisabungan telah mendiami sepanjang pesisir daerah Samosir  ini.

Tidak perlu ada istilah Silalahi Tolping, Silalahi Pangururan atau Silalahi Raja, karena telah jelas semua marga Silalahi yang dimaksud adalah keturunan dari Silalahi Nabolak. Hanya saja kelompok ini telah menjadi apatis dan fanatik dengan doktrin yang mereka anut. Hal ini kami maksidkan supaya keturunan Raja Silahisabungan dapat lebih memahami bahwa kelompok Silalahi ini seringkali menjadi arogan. Kalaupun kelompok Silalahi ini memiliki tujuan atau kepentingan tertentu, tetapi saatnya kini keturunan Raja Silahisabungan bersama-sama mengingatkan kelompok ini. Seperti Ular beludak, meski diingatkan, mereka tetap bersikeras dengan kekerdilah mereka. Nyatanya, kelompok ini tetap bergabung dengan perkumpulan keturunan Raja Silahisabungan lainnya di banyak tempat.

One thought on “Silalahi, Raja Parboruon Klan Simbolon di Pangururan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s