Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

TAROMBO TOBA : BIAS DAN MISS LINK

Leave a comment

Harus kita akui, sampai saat ini belum ada manuscrift yang benar-benar mampu mengarahkan bias-bias legenda yang umumya berlaku di kalangan suku Toba, secara khusus garis keturunan Raja Silahisabungan, maupun Tarombo Batak Toba secara umum. Seorang arkelog Belanda, Bickmore, sendiri mengungkapkan dalam catatannya bahwa ia belum menemukan keberadaan suku Batak sangat tidak jelas. Meski memang peradaban juga yang akan menggambarkan bagaimana proses demi proses alamiah dapat mengubah kultur dan kebiasaan manusia. Marco Polo dan Bickmore sempat mengungkapkan bahwa peradaban suku Batak adalah golongan barbar atau kanibalisme. Bickmore menguraikan rincian lebih khusus, yaitu : Kulit Coklat kehitaman, rambut keriting, tinggi 5 Feet ( ± 150 cm ).  Sepintas kita pasti teringat akan gambaran sosok aborigin / negroid yang memang umumnya mendiami negeri asia-pasifik. Keberadan orang-orang suku Toba yang hampir bisa dipastikan semakin terdesak ke pedalaman (pengunungan) karena derasnya arus migrasi ke Sumatera. Saya menduga pada dekade inilah terjadi pengelompkan suku Batak menjadi 2 kelompok besar, yaitu golongan yang terbuka dan berbaur dengan peradaban baru bersama dengan para imigran dan kelompok suku Batak yang tertutup yang memilih berdiam di gunung-gunung dengan pola kehidupan barbar/kanibal dan terbelakang. Hal ini terlihat dari kultur budaya dan lyfestyle yang agak marginal.

Beberapa tulisan mengenai tarombo Toba bahkan menyisakan polemik dan perbedaan pandangan (berkepanjangan-sampai saat ini) di kalangan suku Toba. Memang sepertinya dipaksakan, Tarombo diadop sebagai doktrin, ekslusif dan sakral meski diluar nalar logika.

Jika dibandingkan dengan keberadaan etnis suku Simalungun , Karo, Mandailing yang dominan lebih dahulu berperadaban maju. Hal ini dapat dilihat dari struktus sosial yang ada. Kerajaaan-kerajaan di tanah Simalungun dan karo telah mengadop system monarkhi modern, sebagai mana kerajaan Hindu-Budha terdahulu pernah berjaya di Sumatera, seperti Sriwijaya atau Majapahit. Batu tertulis yang ditemui di Padang Lawas , Pamatang Bandar Simalungun salah satu bukti adanya masa kejayaan peradaban  Hindu / Budha disana.
Fase kedua ialah masuknya era Islam ke Nusantara. Sebagai akibatnya , Raja-raja dan penguasa Simalungun, Karo dan Mandailing telah memeluk Islam, terlebih lagi setelah kerajaan Samudera Pasai menaklukkan negeri Simalungun, Karo dan Mandailing sebagai kerajaan satelit / taklukannya. Fenomena diata sangat jelas membedakan jika dibandingkan dengan peradaban etnis suku Toba yang mendiami pengunungan (Bukit Barisan) di daerah Toba Holbung dan Samosir.

Banyak lagi fenomena-fenomena yang sebetulnya tidak terjadi begitu saja. Jika dianalisa maka semua akan dapat diurai dan dapat kita pahami keberadaannya. Bukan berarti kita fokus menelaah sisi negatifnya saja , namun kita melihat segi positifnya untuk kita jadikan sebagai dasar perbaikan dan perbaikan lagi. Artinya, kita mengambil sikap terbuka dan tidak responsif berlebihan. Kita tidak perlu menjadi tertutup dan menghakimi perbedaan pendapat. Baiklah kita saling memagari dengan menghormati pengertian orang lain.

Fenomena alam jelas-jelas membentuk siklus peradaban. Sebagai contoh , kita tentu sama-sama mengetahui keterbelekangan saudara kita diaspora Samosir. Kenapa ? Fenomena Alam ! Keterbelakangan peradaban , komunikasi, informasi … ini terjadi terus menerus..sejak dahulu ! Hal ini juga otomatis membangun karakter dan cara berfikir individunya, kegerasi ke generasi…. Ini realita, sama seperti saudara kita di Mentawai , Siberut , Rote, dan lainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s