Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

INTEGRASI KETURUNAN RAJA SILAHISABUNGAN

Leave a comment

Sebagaimana turi-turian (cerita rakyat) dan tarombo yang umumnya berlaku dalam kultur masyarakat Toba , khususnya keturunan Raja Silahisabungan, bahwa Silahisabungan adalah salah sau putra dari Sorbadi Banua , cucu Siraja Batak, yang lahir dan dibesarkan di Lumban Gorat, Balige. Konon Tuan Sorbadi Banua memiliki 4 putra, yaitu :  Sibagotni Pohan, Silahisabungan, Sipaittua dan Siraja Oloan. Sibagotni Pohan bertahan bermukim di Balige. Silahisabungan, Sipaittua dan Siraja Oloan kemudian memilih merantau meninggalkan Toba Holbung  Balige dan mencari tempat tinggal masing-masing. Siraja Oloan memilih tinggal di sekitar Laguboti. Sipaittua kemudian memilih menetap di Pangururan Samosir dan tetapi kemudian berpindah ke Bakkara, sementara Silahisabungan kemudian memilih menetap di Silalahi Nabolak, yang awalnya bernama Huta Lahi, tanah hutan belantara Pakpak di tepian danau. Belakangan, belantara tersebut dinamai Dolok Silalahi, tepian danaunya juga dinamai Tao Silalahi, karena area pemukiman Raja Silahisabungan dan keturunannya kemudian dinamai Silalahi Nabolak (saat ini Kecamatan Silahisabungan merupakan teritori Kabupaten Dairi, Sumatera Utara). Latar belakang penamaan Silalahi sendiri sudah barang tentu dipengaruhi kultur Pakpak Dairi, sebagai mana teritori Silalahiabolak merupakan bagian teritorinya. Konon nama perkampungan (huta) Raja SIlahisabungan adalah Huta Lahi. Namun pada perkembangan pelavalannya menjadi Lalahi atau Si Lalahi  yang dalam bahasa Pakpak / Dairi berartikulasi Pria atau Lelaki. Pelavalan Si Lalahi menjadi familiar di ranah Pakpak / Dairi sehingga Silalahi merujuk pada negeri / tempat Raja Silahsabungan berserta seluruh keturunannya berada. Huta  Lahi berunah menjadi Silalahi dan sementara danau dipesisirnya disebut Tao Silalahi sampai saat ini. Setelah ketujuh anak-anak Raja Silahisabungan dewasa, berkeluarga dan menikah, maka diadakanlah Horja Bius Parsanggaran. Pasca diadakannya Horja Bius Parsanggaran Raja Silahisabungan, maka ke-7 anak-anak Raja Silahsabungan kemudian ditetapkan untuk mendiami 7 perkampungan, masing-masing dibagi dan ditetapkan menurut kelompok (turpuk) ketujuh anak-anak Raja Silahisabungan. Sementara keseluruhan negeri yang didiami oleh keturunan Raja Silahsabungan (Bius Parsanggaran) dinamai Silalahi Nabolak.

PODA SAGU-SAGU MARLANGAN

Merupakan kebanggaan tersendiri untuk kita Pomparan (keturunan) Raja Silahisabungan dewasa ini. Sebagai pomparan, kita diwariskan suatu Poda (wejangan) supaya para keturunannya kelak dapat memahami dan melaksanakannya, yaitu Poda Sagu-sagu Marlangan. Memang , secara ilmiah, validitas atau keabsahan sebuah turi-turian (cerita rakyat) sangatlah lemah, karena tidak dapat dibuktikan denga fakta-fakta transkrif.  Alangkah naif  juga apabila ini kemudian menjadi polemik yang sangat berkepanjangan bila dipermasalahkan. Namun satu hal yang perlu kita perhatikan adalah visi, niat dan kearifan Raja Silahisabungan untuk masa depan keturunanannya. Dan ini telah diturunkan secara turun temurun (warisan) bagi keturunannya di Silalahi Nabolak, sebagai Bona Pasogit (tanah leluhur) yang diwariskan oleh Raja Silahisabungan kepada keturunannya.Pinungka ni Sijolo-jolo tubu , ihuthonon ni na parpudi. Artinya bahwa norma –norma kultur dan sosial yang telah ditetapkan dan dilaksanakan oleh para leluhur maka itu pulalah yang akan terus dilaksanakan oleh para keturunannya, sampai saat ini. Tentu saja semua ini diadaptasikan oleh perjalanan waktu dan sejauh bersesuaian dengan situasi dan perkembangan nilai-nilai kultur-sosial , modernisasi kehidupan manusia sepanjang jaman. Terkait budaya, norma adat-istiadat, turi-turian maupun tarombo, adakalanya kita sering diperhadapkan dengan perbedaan-perbedaan pemahaman maupun perspektif. Dapat dimaklumi karena memang kita hanya berdasar dari cerita-cerita rakyat (dongeng turun temurun) yang kita dapatkan dari masing-masing leluhur. Sebagaimana pepatah “lain padang lain belalang” maka dapat dipastikan kadar dan warna kulturnya akan berbeda. Umunya kultur budaya di Silalahi Nabolak sedikit bebrbeda dengan di Toba Holbung ataupun di Samosir. Ada ciri tertentu. Untuk masa kini, dimana Pomparan Raja Silahisabungan telah terserak dari Silalahi Nabolak dan berdiam dari generasi ke generasi ke seluruh penjurunya, seperti : Pakpak Dairi, Karo, Simalungun, Samosir, Toba dan Deli. Adalah integrasi / kesatuan sesama pomparan Raja Silahisabungan dalam satu ikatan kekeluargaan , sebagaimana ideologi kultur Toba umumnya, yaitu Dalihan Natolu. Mar Hula-hula, mar Dongan Tubu, mar Boru dan Bere / Ibebere dalam Punguan (integrasi) Pomparan Raja Silahisabungan yang ada (hampir) diseluruh kota-kota wilayah Indonesia.  Kita dituntut untuk dapat menyikapinya dengan sikap jernih dan berbesar hati. Dengan tidak memperbesar perbedaan perspektif maupun pemahaman dengan tujuan untuk persatuan. Namun satu hal yang paling penting adalah dengan tujuan “tidak merusak” apa yang telah dilakukan dan diwariskan oleh para leluhur kita, sebagai kultur dan budaya , khususnya pomparan Raja Silahisabungan diaspora Silalahi Nabolak.

Ada 7 (tujuh) dari 8 (delapan) anak-anak Raja Silahisabungan berkembang di Silalahi Nabolak, yaitu Lohoraja, Tungkirraja, Sondiraja, Butarraja, Dabaribaraja, Debangraja dan Baturaja. Ketujuh anak-anak Raja Silahi Sabungan ini terlahir dari seorang Ibu yang bernama Pingganmatio Padangbatanghari, putri Raja Pakapak Dairi. Sementara Raja Silahisabungan memiliki seorang putra yang lain, yang terlahir dari seorang putri Raja Nairasaon bernama Boru Siboru Nailing, yaitu bernama Tambunraja. Namun kemudian Tambunraja memilih untuk menemui sang paman (Tulang) di Sibisa dan berdiam disana dan kemudian menikahi putri sang paman, Manurung. Di Sibisa , Tambunraja kemudian lebih familiar disebut Raja Tambun. Umumnya, keturunan Raja Tambun memamakai marga Tambun di Sibisa Sigotom (Tambun Uluan). Marga Tambun kemudian menurunkan marga keturunannya, uaitu marga Tambunan di Toba Holbung Balige. Sebagai materai sedarah diantara seluruh anak-anak Raja Silahisabungan , yang dikenal dengan Poda Sagu-sagu Marlangan, sampai saat ini masih terus berlangsung dan berlaku diantara seluruh keturunan Raja Silahisabungan dewasa ini.

Berurutan, 8 (delapan) anak-anak Raja Silahi Sabungan , secara umum diuraikan sebegaima dibawah ini :

1] LOHO RAJA( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIHALOHO ), 2] TUNGKIR RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SITUNGKIR, SIPANGKAR, SIPAYUNG ), 3] SONDI RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA RUMA SONDI, RUMASINGAP, SILALAHI, SINALOHO, SINABUTAR, SINABANG, SINAGIRO, NAIBORHU, NADAPDAP, SINURAT, DOLOK SARIBU ), 4] BUTAR RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABUTAR ), 5] DABARIBA RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABARIBA ), 6] DEBANG RAJA ( KETURUNANYA MEMAKAI MARGA SIDEBANG ), 7] BATU RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA PINTUBATU, SIGIRO), 8] TAMBUN RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA TAMBUN DAN TAMBUNAN ). Raja Silahisabungan memiliki seorang putri, yaitu Putri Deang Namora dan sampai akhir hayatnya  tidak menikah.

Penting untuk diketahui, pada Fase ini belum ada marga Silalahi. Yang ada adalah negeri Silalahi Nabolak dan Tao Silalahi. Cikal bakal lahirnya marga Silalahi ialah ketika keturununan dari ketujuh anak-anak Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak kemudian merantau dari Silalahi Nabolak. Meninggalkan Silalahi Nabolak, keturunan Raja Silahisabungan ini merantau ke negeri Simalungun, Tanah Karo, Pulau Samosir dan Toba Holbung (Balige).

Silalahi Nabolak sagat kesohor kerena kesaktian Raja Silahisabungan yang sangat disegani sebagai Datu Bolon (Dukun Sakti) pada waktu itu. Sehingga keturunan Raja Silahisabungan dari Silalahi Nabolak sangat disegani diperantauan mereka. Tak heran jika nama Silalahi telah kondang dan familiar disekitar Silalahi Nabolak. Keturunan Raja Silahisabungan ini kemudian cenderung menyertakan Silalahi sebagai identitas mereka diperanatau. Alhasil, diperantauan (diluar negeri Silalahi Nabolak) para keturunan Raja Silahisabungan ini lebih nyaman mengenakan Silalahi sebagai marga keturunan mereka. Itu sebabnya marga Silalahi ada di Simalungun, Tanah Karo, Samosir dan Toba Holbung. Meski demikian, diantara mereka masih mengetahui klan mereka dari antara ketujuh anak-anak Raja Silahisabungan. Itu sebabnya tidak aneh jika kemudian para keturunan yang menyandang marga Silalahi terkadang harus memperjelas klan mereka masing-masing karena ini sangat penting terkait status keturunan (partuturan) dalam format adat diantara keturunan Raja Silahisabungan.

“Maka tak heran kemudian jika marga Silalahi ada di Balige (keturunana Rumasondi), Silalahi ada di Pangururuan, Tolping Samosir (keturunan Sidebang), ada di Simalugun.”

Satu hal yang menjadi kendala ialah situasi dan kondisi waktu itu sangat terabatas (bahkan terputus) komunikasi dan informasi sehingga sekian waktu para keturunan Raja Silahisabungan yang berada di Simalungun, Toba, Samosir tidak saling mengetahui lagi. Barulah kemudian pasca pendudukan kolonial Belanda menguasai dan membuka akses lalu lintas Toba-Simalungun-Pakpak , perjumpaan para keturunan terjadi (memilki satu marga yang sama namun tidak saling mengetahu sebelumnya) akibat terjadinya arus urban ke Sumatera Timur.

Seperti halnya generasi yang tumbuh dan besar di Simalungun, telah berbaur dan familiar dengan kultur Simalungun dan tentu akan terasa ada enggan/kikuk ketika kemudian bertemu dengan klan yang berasal dari Toba Balige atau Samosir, dan demikian pula sebaliknya. Namun bersyukur dalam era globalisasi sekarang ini semuanya telah terungkap  dan berangsur dapat dipahami dan saling menerima.

Ini pula yang menjadi hal yang patut kita fahami bahwa marga Silalahi jelas adalah bagian dari keturunan Silahisabungan yang telah berkembang diluar Silalahi Nabolak. Semakin jelas lagi, di Balige, telah ada Tugu Makam Raja Parmahan Silalahi aliar Raja Bunga-bunga, keturunan Ruma Sondi yang melakukan parpadanan atau perjanjian sedarah (kakak-adik) dengan marga Tampubolon, dan juga dengan Sinambela, Sihite, Sitompul, Simanullang, dll. Sampai saat ini, banyak keturunan Silahisabungan yang tidak/belum mengetahui hal ini, karena ini memang terjadi di Toba Holbung Balige.

Sama juga seperti keturunan Tambun Raja ( yang familiar dipanggil Raja Tambun di Toba , Sibisa ) yang juga tidak mengetahui adanya perjanjian (parpadanan) ini. Karena ada kebiasaan dalam keturunan Raja Silahisabungan bahwa perjanjian Kakak juga menjadi perjanjian Adik, demikian halnya bahwa perjanjian Adik adalah juga menjadi perjanjian Kakak. Namun demikian, dalam era ini banyak situasi dan kondisi yang harus kita pahami dan maklumi, sehingga kultur atau kebiasaan-kebiasaan yang turun-temurun diwariskan telah di update dan diperbaharui sedemikan rupa sepanjang itu masih dalam batas-batas positif dan tidak arogan.

Mengenai Silalahi Raja adalah pemufakatan sepihak dan tidak perlu dibahas.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s