Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

Silalahi keturunan Raja Silahisabungan

Leave a comment

TUMARAS 2012Silalahi Nabolak adalah satu-satunya bius / bona pasogit keturunan Raja Silahisabungan yang dikenal khalayak sekitar Pakpak Dairi, Angkola, Mandailing, Samosir , Karo dan Simalungun , umumnya etnik Batak Toba, Sumatera Utara.

Dahulu kala, ngeri ini disebut Huta Lahi atau Huta Lalahi. Namun sejak pendudukan kolonial Belanda, negeri ini di sebut dengan Silalahi. Sejak jaman Kolonial Belanda ini pula, pergeseran marga keturunan Silahi Sabungan banyak terjadi menjadi Silalahi dan tertulis secara registrasi kependudukan maupun birokrasi.

Sejak dahulu, Silalahi Nabolak merupakan negeri trans-kultur Toba, Dairi, Karo dam Simalungun. Itu sebabnya Silalahi Nabolak juga dikenal sebagai negeri Sitolu huta , yang merupakan subsistusi ketiga suku domain terseut. Demikian halnya dengan bahasa, yaitu pembauran antara bahasa suku Dairi (Pakpak), Karo dan Simalungun.

 

Konon ketika keturunan Raja Silahi Sabungan merantau keluar dari Silalahi Nabolak, diperantauan mereka sering dipanggil sesuai negeri asalnya yang lebih dikenal familiar, yaitu Silalahi. Alhasil , dalam proses waktu dan administrasi maka pemakaian nama Silalahi berkembang pula menjadi marga, terutama di negeri perantauan Simalungun, Dairi, Karo dan Samosir. Itu sebabnya, beberapa marga keturunan Raja Silahisabungan dari Silalahi Nabolak, seperti : Sihaloho, Situngkir, Sidebang, Pintu Batu, dan lainya, karena adanya sebutan Silalahi kepada mereka ( sebagai perantau dari negeri Silalahi Nabolak ) diperantauan , seiring waktu banyak kemudian menjadikan Silalahi sebagai marga dalam tertib administrasi kependudukan. Kemudian ada semacam konsensus internal antar sesama keturunan Raja Silahsabungan , bahwa  semua keturunan Raja Silahisabungan berhak memakai marga Silalahi, sesuai nama tanah asal mereka, yaitu Silalahi. Hal ini kemudian terbukti dengan adanya marga Silalahi keturunan Sihaloho, Situngkir, atau lainnnya. Artinya, masing-masing mengerti dan memahami kejelasan asal-muasal turpuk marga mereka. Hal ini sangat diperlukan dan akan penting ketika terkait hubungan Tutur (pangggilan antar keturunan / kekerabatan) maupun dalam hubungan adat. Ini bukanlah masalah inkonsistensi dalam hal pemakaian marga keturunan. Pemakaian marga Silalahi sama sekali tidak menjadi masalah bagi 8 (delapan) keturunan Raja Silahisabungan. Tidak ada alasan untuk membatasi pemakain marga silalahi bagi keturunan Raja Silahi Sabungan. Justru pemakaian marga Silalahi juga mempertegas bahwa seseorang itu adalah salah satu keturunan dari tanah (bius) Silalahi Nabolak.

Demikian juga dengan Keberadaan Silalahi ( keturunan Raja Parmahan Silalahi Sondiraja di Toba Holbung (Balige) dan Samosir yang pada awalnnya adalah identitas awam untuk menyatakan mereka sebagai orang-orang perantau (pendatang) dari Silalahi Nabolak. Diantara keturunan Silahisabungan yang merantau ke Samosir dan Toba Holbung eksis memakai marga Silalahi.

Jauh sebelum pendudukan Kolonialis Belanda, negeri Silalahi dikukuhkan negeri yang menginduk kepada Sumbul Pegagan Pakpak, oleh pemerintahan lokal Pakpak. Sampai kemudian negeri Pakpak masuk dalam kekuasaan Belanda, dan terakhir sebagai otonomi propinsi Tapanuli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s