Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com

Legenda Raja Silahisabunngan

Leave a comment

Tugu Makam Raja Silahisabungan yang digagas sejak tahun 1967 dan diresmikan tahun 1981, berada di Desa Silalahi Nabolak, Kec.Silalahi Kab.Dairi.

Sebagaimana turi-turian (cerita rakyat) dan tarombo yang umumnya berlaku dalam kultur masyarakat Toba , khususnya internal keturunan Raja Silahisabungan, bahwa Raja Silahisabungan adalah salah sau putra dari Sorbadi Banua , cucu Siraja Batak, yang lahir dan dibesarkan di Lumban Gorat, Balige. Tuan Sorbadi Banua memiliki 4 putra, yaitu : Si Bagotni Pohan, Si Lahi Sabungan, Si Paittua dan Si Raja Oloan. Si Bagotni Pohan bertahan bermukim di Balige. Si Lahi Sabungan, Si Paittua dan Si Raja Oloan kemudian merantau mencari tempat tinggal masing-masing, keluar dari Toba Holbung – Balige. Si Paitua memilih tinggal di sekitar Laguboti. Si Raja Oloan kemudian memilih menetap di Pangururan Samosir dan kemudian ke Bakkara, dan Si Lahi Sabungan kemudian memilih menetap di Silalahi Nabolak, yang awalnya bernama Huta Lahi, tanah belantara Pakpak. Belakangan, belantara tersebut dinamai Dolok Silalahisabungan ( ada juga menyebut hutan Laksabunga) , tepian danaunya juga dinamai Tao Silalahi, karena area pemukiman Raja Silahi Sabungan dan keturunannya dinamai Silalahi Nabolak. Sejak awal Silahisabungan konon mengusahakan belantara dan bermukim disana.

Kemudian Silahisabungan memiliki 8 (delapan) anak dan 2 (dua) istri. Dari Silalahi Nabolak inilah pada awalnya diaspora keturunan Raja Silahisabungan ( fase pertama sekali ). Maka logikanya, adapun diaspora keturunan (atau yang mengaku sebagai keturunan) Raja Silahisabungan dari daerah lain, ini adalah merupakan keturunan fase kedua atau ketiga. Sebagai contoh di Samosir, Karo, Batak Timur (pada era kolonialisme Belanda berubah nama menjadi Simalungun).

Merupakan kebanggaan tersendiri untuk kita Pomparan (keturunan) Raja Silahisabungan dewasa ini. Sebagai pomparan , kita diwariskan suatu Poda (wejangan) supaya para keturunannya kelak dapat memahami dan melaksanakannya, yaitu Poda Sagu-sagu Marlangan. Memang , secara ilmiah, validitas atau keabsahan sebuah turi-turian (cerita rakyat) sangatlah lemah, karena tidak dapat dibuktikan denga fakta-fakta transkrif. Sehingga ini kemudian dapat menjadi hal yang sangat berkepanjangan bila dipermasalahkan. Namun satu hal yang perlu kita perhatikan adalah visi, niat dan kearifan Raja Silahi Sabungan untuk masadepan keturunanannya. Dan ini telah diturunkan secara turun temurun (warisan) bagi keturunannya di Silalahi Nabolak, sebagai Bona Pasogit ( tanah leluhur ) yang diwariskan oleh Raja Silahi Sabungan kepada keturunannya.

Kita dituntut untuk dapat menyikapinya dengan sikap jernih dan berbesar hati. Dengan tidak memperbesar perbedaan perspektif maupun pemahaman dengan tujuan untuk persatuan. Namun satu hal yang paling penting adalah dengan tujuan “tidak merusak” apa yang telah dilakukan dan diwariskan oleh para leluhur kita, sebagai kultur dan budaya , khususnya pomparan Raja Silahi Sabungan diaspora Silalahi Nabolak.

Silahisabungan pastilah seorang yang memiliki komitmen dan konsistensi. Akan lebih baik bagi Silahisabungan pergi meninggalkan kampung halamannya, Lumban Gorat Balige, untuk menghindari pertikaian yang berkepanjangan seumur hidupnya terhadap Sibagot Ni Pohan. Komitmen ini pulalah yang diikuti adik-adiknya, Siraja Oloan dan Sipaettua. Konon mereka menjadi korban muslihat Sibagot Ni Pohan. Komitmen Raja Silahi Sabungan kemudian diikuti olah kedua adiknya untuk bersama-sama meninggalkan Toba Holbung Balige, pergi kedaerah baru untuk mereka diami ( catatan Tumbaga Holing ).

Pustaha Tumbaga Holing mengurai bahwa Siraja Oloan akhirnya memilih tinggal di Laguboti dan Sipaettua memilih tinggal di Pangururan Samosir dan kemudian berpindah ke Bakkara. Sementara, Silahi Sabungan terus melanjutkan perjalanan dan sampai tiba di belantara Pak-pak Dairi. Masing-masing mereka mengusahakan negeri yang mereka diami. Siraja Oloan dan keturunannya kemudian diketahui berasal dari Laguboti dan sekitarnya. Demikian halnya Sipaittua dan keturunannya  yang diketahui bersasal dari Bakkara sekitarnya. Juga halnya dengan Silahi Sabungan dan keturunannya yang diketahui berasal dari Silalahi Nabolak.

Ulos Silahisabngan

Ketetapan hati dan kesungguhan telah membuat Silahisabungan  sebagai sosok yang bisa diteladani. Seolah ia ingin menyudahi perseteruannya dengan sedarah-sekandung sendiri, yakni dengan caranya sendiri dan bertekad kelak ia dapat menunjukkan bahwa ia sanggup menunjukkannya. Silahisabungan berkomitmen bahwa ia dan keturunannya kelak harus berbeda dengan keturunan kakaknya Sipabotni Pohan di Toba. Silahi Sabungan menciptakan sendiri Gondang Sabanguan Silahi Sabungan, yang berbeda dengan gondang yang umumnya yang berlaku di Toba Holbung. Silahi Sabungan menciptakan sendiri corak ulosnya , Ulos Gobar Silahisabungan, yang sudah pasti berbeda dengan Ulos Batak Toba umumnya. Bahkan Silahisabungan menciptakan satu norma Integrasi yang visioner bagi keturunannya , yaitu Poda Sagu-sagu Marlangan.  Satu poda yang sangat berbeda dengan yang lain, dan bahkan ini menjadi satu ikon positf bagi keturunan marga-marga lain. Poda Sagu-sagu Marlangan, poda yang ditujukan bagi keturunannya, 8 (delapan) anak  Raja Silahi Sabungan dari 2 (dua) istrinya, yang mana diantara keturunan 8 anaknya kelak adalah satu, sedarah dan sedaging yang tidak boleh saling nikah-menikahi. Akan sangat berbeda bila ditinjau dari kebiasaan Toba Holbung, yang membolehkan saling nikah-menikahi meski masih dalam satu garis keturunan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s