Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com


Leave a comment

Skema Silsilah Keturunan Raja Silahi Sabungan

Seperti pepatah mengatakan, dari Buah kita akan mengetahui Batang Pohonnya. Demikian juga dalam hal marga-marga keturunan yang umum terdapat pada et nis Toba, secara khusus kita keturunan Raja Silahi Sabungan dari Silalahi Nabolak. Silahi Sabungan berasal dari 2 suku kata. Itu sebabnya penulisan yang benar adalah Silahi Sabungan, bukan Silahisabungan. Lahi artinya Laki-laki , sementara Sabungan antinya Jawara atau kesatria. Penempatan kata Si adalah kata penunjuk tambahan terhadap sesuatu atau seseorang. Sehingga Silahi Sabungan dapat diartikan sebagai Lelaki Kesatria.

Kita keturunan Raja Silahi Sabungan tentu sangat dikenal dalam komunitas etnik Toba. Silahi Sabungan yang berasal dari Toba Holbung, Balige, kemudian merantau dan tinggal di tepian danau Toba, belantara Pakpak Dairi. Di sini, Silahi Sabungan kemudian menikahi putri Pakpak Dairi bernama Pingganmatio Padang Batangari dan dari sini Silahi Sabungan mendapatkan 7 putra dan satu putri. Kemudian Silahi Sabungan menikah lagi dengan Siboru Nailing putri Nairasaon dan dari sini Silahi Sabungan mendapatkan 1 putra lagi. Keseluruhan, Silahi Sabungan memperoleh 8 Putra dan 1 Putri.

Adapun ke delapan putra Silahi Sabungan (secara berurutan) adalah : Loho Raja,Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Dabariba Raja, Debang Raja, Batu Raja dan Tambun Raja. Tujuh dari delapan putra Silahi Sabungan berdiam dan berketurunan di Huta Lahi. Sedangkan satu lagi, yaitu Tambun Raja, memilih pergi untuk menemui ibunya, Siboru Nailing putri Nairasaon di Sibisa (Porsea) dan tinggal disana. Tambun Raja kemudian menikah dengan putri Raja Mangarerak (leluhur marga Manurung), pamannya sendiri. Di Sibisa, ia dikenal dengan Raja Tambun dan digelari juga Raja Itano.

Pada perkembangannya, anak-anak Silahi Sabungan kemudian menurunkan marga keturunan (klan). Keturunan Loho Raja memakai marga Sihaloho. Keturunan Tungkir Raja memakai marga Situngkir. Keturunan Sondi Raja memakai marga Sirumasondi dan Sirumasingap, Keturunan Butar Raja memakai marga Sidabutar. Keturunan Dabariba Raja memakai marga Sidabariba. Keturunan Debang Raja memakai marga Sidebang. Keturunan Batu Raja memakai marga Pintubatu. Sama halnya dengan Keturunan Tambun Raja memakai marga Tambun.

Pada fase selanjutnya, seiring bertumbuh kembangnya keturunan Silahi Sabungan, maka terlahir kembali  marga-marga turunan (Marga Gelleng) dari marga-marga diatas. Marga Sihaloho menurunkan marga Silalahi. Marga Situngkir menurunkan marga Sipangkar, Sipayung, Silalahi. Marga Sirumasondi menurunkan marga Rumasondi, Sirumasingap menurunkan marga Rumasingap, kemudian juga marga Silalahi, Sihaloho ( keturunan Raja Bunga-bungan Silalahi di Balige) , Sinagiro, Sinabang, Sinabutar, Naiborhu, Sinurat, Nadapdap, Doloksaribu. Keturunan Sidabutar menurunkan marga Silalahi. Keturunan Sidabariba menurunkan marga Silalahi. Keturunan Sidebang menurunkan marga Silalahi. Keturunan Pintibatu menurunkan marga Sigiro dan Silalahi. Keturunan Tambun menurunkan marga Tambunan dan Daulai.

Keturunan Silahi Sabungan di Huta Lahi bertumbuh-kembang dengan pesat. Secara teritori, Huta Lahi termasuk dalam otonomi Pakpak Dairi. Huta Lahi menjadi bagian dari otonomi Suak Sumbul Pegagan. Namun sejak pendudukan Kolonial Belanda, maka penataan otonomi dan administrasipun dilakukan. Kolonial Belanda kemudian menetapkan penamaan Huta Lahi dan sekitarnya menjadi Silalahi Nabolak. Demikian halnya dengan pesisir danaunya dinamai Tao Silalahi sampai saat ini. Sejak pendudukan Kolonial Belanda pula, arus kedatangan imigrasi dari Tapanuli (Toba Holbung) sangat pesat, terlebih mereka yang terpelajar dari Balige dan Tarutung dan diangkat Kolonial Belanda sebagai Staff di Pakpak Dairi. Selain itu, perantau dari Samosir juga berdatangan ke negeri Pakpak Dairi untuk merantau, merubah nasib. Tak ayal kemudian jika di negeri Pakpak juga terdapat banyak penduduk etnis Toba dan Samosir.

Di Samosir ada fenomena tersendiri. Keturunan Datu Naboratan Sinabang konon banyak memakai marga Sinabang dan Silalahi. Demikian Sinabutar keturunan Siraja Bunga-bunga Silalahi dari Balige jamak memakai marga Sinabutar dan Silalahi di Samosir. Menjadi rancu kemdian, ketika marga Sidabutar, Sidebang, dari Silalahi Nabolak merantau ke Samosir dan bertemu keturunan Sinabang, Sinabutar, Silalahi dan apakah terjadi kesepahaman atau ala kebiasaan (?) dan pada akhirnya yang ada di Samosir jamak memakai marga Sinabutar, Sinabang atau Silalahi saja. Selain itu, di Samosir terlebih dahulu telah ada marga Sidabutar keturunan Nai Ambaton (Parna), sehingga untuk menghindari kesalahpahaman maka marga Sinabutar eksis sebagai marga mereka yang bersal dari Silalahi Nabolak ataupun dari Balige.
Satu hal yang penting kita garis bawahi adalah bahwa marga Silalahi adalah marga gelleng dari keturunan Silahi Sabungan, baik itu di negeri Pakpak Dairi, Baik itu di negeri Simalungun maupun Tanah Karo, baik itu negeri Samosir Tolping dan Pangururan ataupun di Toba Holbung (Balige). Sehingga jamak disebutkan pula bahwa marga Silalahi merupakan marga parsadaan dalam keturunan Raja Silahi Sabungan.

Turasi (Turi-turian Raja Silahi Sabungan) sejak tahun 1968 telah dibicarakan dengan membentuk Team Panitia persiapan Pembangunan Tugu Makam Raja Silahi Sabungan, di negeri Silalahi Nabolak. Bukan tanpa kendala, namun kinerja Panitia serta dorongan kebersamaan dari seluruh komunitas Pomparan Raja Silahi Sabungan dari berbagai penjuru Tanah Air, akhirnya Tugu Makam Raja Silahi Sabungan secara resmi berdiri dan diresmikan pada tanggal 26-27 Nopember 1981.

Generasi muda Pomparan Raja Silahi Sabungan agar memahami dan tidak perlu menanggapi ocehan miring bahkan mesdiskreditkan keabsahan Tugu Makam Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak yang saat ini marak di dunia maya atau jejaring sosial. Kita tidak perlu terpancing juga dengan perdebatan-perdebatan sia-sia yang bahkan sampai pada caci-mencaci seperti marak di jejaring sosial atau blog internet.  Para pendahulu kita telah mengambil satu kesepakatan bulat dan bukan tanpa alasan pemikiran serta logika. Para pendahulu kita dahulu pastilah sudah berjerih lelah dalam mempertimbangkan segalanya. Tugu Makam Silahi Sabungan adalah hasil kesatuan seluruh Pomparan Raja Silahi Sabungan, baik itu di Bona ni pasogit dan di Tano Parserahan (perantauan ). Catatan status dan tulisan di dunia maya sudah dimanfaatkan oleh Oknum tertentu yang seolah-olah pembangunan Tugu serta Tarombo Raja Silahi Sabungan sarat dengan skandal dan sentimentil. Alasan mereka sangat klasik, namun upaya mereka adalah merongrong keutuhan Pomparan Raja Silahi Sabungan.

Bahwa Tarombo Raja Silahi Sabungan yang tertera di Tugu Makam Silahi Sabungan adalah patokan mutlak bagi seluruh pomparan Raja Silahi Sabungan. Serta Poda Sagu-sagu Marlangan sebagai tali pengikat diantar keturunan Raja Silahi Sabungan.

Horas.


2 Comments

Bonataon 2013 PP Raja Silahi Sabungan Di ICCS Sentul Jawa Barat

Ditundanya Pesta Bona Taon 2013 dan Pengukuhan Pengurus Pusat (PP) Punguan Pomparan Raja Silahi Sabungan Se Indonesia yang dicanangkan sebelumnya tanggal 27 Januari 2013 di ICCS Sentul Jawa Barat menuai polemik kembali. Entah untuk pertimbangan apa atau dengan pertimbangan apa, semua tidak jelas. Undangan yang seolah bergerilnya terlanjur diterima sampai ke daerah sepertinya akan menjadi sia-sia. Berbagai macam nada SMS gentayangan beredar entah untuk tujuan apa (propokasi?) dan oleh pengirim yang tak jelas. Berbagai model selebaran (fotocopy) juga tidak ketinggalan. Berbagai issue dan preseden pun bermunculan. Mengapa ? Sadar atau tidak sadar, pomparan Silahi Sabungan sepertinya akan dimanfaatkan (menjadi kacau) oleh orang-orang tertentu.

Anehnya, tidak ada satupun yang mengemukakan dengan berani dan jujur (tegas) dan menjadi penggungjawab dalam hal ini. Karena memang sejak awal sepertinya kurang matang dan transfaran, dan yang jelas secara komunal belum mewakili seluruh Pomparan Raja Silahi Sabungan.  Apalagi berbicara Se Indonesia, Se Jabodetabek saja belum becus.

Kita tentu sangat setuju, bangga dan mengapresiasi jika niat baik untuk membuat Paguyuban Pomparan Raja Silahi Sabungan ini tersentralisasi, namun dengan cara yang elegan dan murni untuk tujuan yang positif. Saya kira Indonesiayang nota bene memiliki 33 provinsi akan dapat bersatu dalam satu wadah, demi kesatuan, persamaan visi dan misi, sosial, kultur sosial dan humanisme, untuk kemajuan keturunan Raja Silahi Sabungan di seluruh Indonesia, bahkan bumi semesta ini. Memiliki sturktur yang standar: Pusat, Wilayah, Cabang, Ranting, Sektor.

Karena kita pasti menduga bahwa diseluruh provinsi Punguan Pomparan Raja Silahi Sabungan (PPRSS) pastilah ada. Namun bagaimana sosialisasi yang benar dan jelas, sehingga tidak menimbulkan friksi, inilah yang belum terbentuk dengan jelas. Saya kira, dengan kemajuan teknogi massmedia sekarang ini adalah waktunya untuk dimanfaatkan secara maksimal secara positif, sebagai media informasi dan komunikasi. Itu sebanya akan sangat menggelitik jika masalah sarana informasi dan komunikasi dijadikan kendala dalam hal ini.

Tidak ada istilah menyerah ! Saya sangat yakin, ada banyak keturunan Silahi Sabungan yang kompeten dalam rangka memberdayakan Keturunan Silahi Sabungan ini untuk lebih baik. Butuh pembelajaran, butuh kematangan dan perlu perhitungan. Jika kita menggali trilogy sosial budaya warisan Batak umumnya ( Dalihan Na Tolu : Sangap Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru), yang mana bagian kita Na Mardongan Tubu supaya betul-betul manat, supaya kita menjadi terhormat dan dihormati. Raja Silahi Sabungan, memiliki delapan anak (8) laki-laki telah menurunkan banyak marga keturunannya (Gelleng) bamun kesemuanya keturunannya tetap menginduk kepada 8 anak Raja Silahi Sabungan, sebagai mana tertulis di Tugu Makam Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak, Pakpak Dairi.

Skema Keturunan Raja Silahi Sabungan

Anak Keturunan

Marga Keturunan Anak  Marga Keturunan
Raja Silahi Sabungan 1)      Loho Raja Sihaloho Sihaloho
2)      Tungkir Raja Situngkir Sipangkar
Sipayung
3)      Sondi Raja Rumasondi Silalahi (Balige) Sinabutar, Sinabang,Sinurat, Nadapdap,Doloksaribu, Naiborhu
Rumasingap Silalahi Rumasingap
4)      Butar Raja Sidabutar Silalahi Butarraja
5)      Dabariba Raja Sidabariba Silalahi Baribaraja
6)      Debang Raja Sidebang Silalahi Debangraja Silalahi Pangururan
Silalahi Tolping
7)      Batu Raja Pintu Batu Silalahi Pintubatu
Silalahi Sigiro
8)      Tambun Raja Alias Raja Tambun
Alias Raja Itano
Tambun Tambunan,Daulai (y)

@bunganabontar


5 Comments

Angkuhnya Silalahi Raja Menolak Identitas Silalahi Nabolak

RAJA SILAHI SABUNGAN : 2 OKNUM YANG BERBEDA ?
Artinya jika dirunut, maka menurut saya ada dua oknum Raja Silahisabungan yang berbeda dan memiliki legenda yang berbeda tentunya. Itu sebabnya ketika kedua legenda ini coba disatukan maka tidak ada kesesuaian atau titik temu, karema memang adalah dua oknum yang sama sekali tidak sama satu dengan yang lain.

Di negeri Silalahi Nabolak terdapat Tao (Danau) Silahisabungan (Tao Silalahi), Dolok (Bukit) Silahisabungan, tanah (Bius) keturunan Raja Silahisabungan yang dinamai sesuai nama-nama dari Delapan (8) putra Raja Silahisabungan.

Tugu Makam Raja Silahisabungan berdiri megah di tanah Silahisabungan, negeri Silalahi Nabolak, Kec. Silahisabungan, Kab.Dairi, Sumatera Utara. Di Tugu tersebut jelas bahwa Raja Silahisabungan memiliki 2 Isteri, yaitu : Pingganmatio Padangbatangari dan Siboru Nailing Boru Nairasaon. Raja Silahisabungan memiliki Delapan (8) anak laki-laki dan Satu (1) anak perempuan. Kemudian, Loho Raja merupakan Anak Buha Baju (putra sulung) dari Raja Silahisabungan. Silalahi Na Bolak merupakan Bonani Pasogit keturunan Raja Silahisabungan. Disana juga tersebut Tao Silalahi (awalnyaTao Silahisabungan) dan Dolok Silahisabungan, semuanya berada di negeri Silalahi Na Bolak, Dairi.

Lalu di Pangururan berbeda, konon berdiri pula Makam Ompu Raja Silahisabungan dengan tiga Istri dan Sembilan (9) anak keturunannya. Disebut Silahi Raja sebagai Buha Baju dari Raja Silahisabungan yang terlahir dari istrinya  Baso Nabolon Boru Simbolon. Versi Pangururan ini kemudian menjadi polemik karena disini dikatakan bahwa istri Raja Silahisabungan adalah 3, termasuk dua yang di Silalahi Nabolak. Keturunan Raja Silahisabungan dari Silalahi Na Bolak tidak mengakui klaim ini. Tidak satupun keturunan dari Silalahi Na Bolak mengetahui dan menyetujui kalau keberadaan mereka diklaim termasuk dalam trombo yang tertulis di Pangururan. Siapa sebenarnya yang melakukan ini ? ini yang menjadi masalah, karena Tugu Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak jelas menfesahkan bahwa istri Raja Silahisabungan hanya ada 2. Dan lagi, keberadaan Tugu di Pangururan dibangun tanpa sepengetahuan dari golongan Silalahi Na Bolak, dan ujuk-ujuk keberadaan tarombo Raja Silahisabungan di  klaim dan dimasukkan dalam tarombo Pangururan. Kelompok Silalahi di Pangururan sekitarnya ( Silalahi Raja ) supaya merubah tarombo mereka tanpa memasukkan tarom Raja Silahisabungan sebagaiamana di Silalahi Na Bolak.

Hemat saya, sebagai keturunan Raja Silahisabungan dari Silalahi Na Bolak, kondisi ini tidak perlu dipermasalahkan. Saya mengajak juga saudara-saudara sekalian seluruh keturunan Raja Silahisabungan, yaitu keturunan Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Dabariba Raja, Debang Raja, Batu Raja dan Tambun Raja (Raja Tambun), supaya mengambil sikap positif tanpa harus melahirkan polemik-polemik yang menyesatkan. Bagi kita sangat jelas dan cukuplah tarombo yang ada di Silalahi Nabolak yang menjadi acuan dan terus kita sampaikan kepada keturunan kita generasi berikutnya. Kalaupun ada kelompok marga dari Pangururan yang mengklaim sebagaima versi mereka, kita tidak usah “ngotot” atau terseret dalam argumen “hoax” karena cukuplah tarombo atau silsilah yang telah turun temurun diwariskan nenek moyang kita di Silalahi Nabolak yang harus kita pegang dan  wariskan kepada generasi kita sekarang dan kelak.

Tidak perlu menanggapi berlebihan atas pernyataan dan sikap dari klan Silahi Raja atau Silalahi Raja. Biarlah Tarombo Silahi Raja mereka untuk mereka Silalahi Raja dan tidak perlu kita ( Parbaringin Silalahi Na Bolak) paksakan untuk masuk dalam jajaran kita dari Silalahi Na Bolak seperti keinginan mereka (Silalahi Raja). Kita tidak memaksa Silalahi Raja menjadi bagian dari Silalahi Na Bolak, sama halnya juga : Silalahi Raja jangan pernah memaksa keturunan Silalahi Nabolakn menjadi bagian dari Silalahi Raja. Sejak sebelum pembanguna Tugu Raja Silahi Sabungan Di Silalahi Na Bolak, berbagai upaya rekonsiliasi sudah dilakukan oleh para pendahulu kita untuk mengajak kelompok Silalahi Raja supaya Silalahi Raja meluruskan tarombo mereka dari antara 8 anak-anak Silahisabungan, namun kelompok Pangururan ( Gunung Asal Silalahi ) menolak bahkan Walk-Out memboikot (tidak termasuk) dalam Tugu Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak. Sebagaimana diabadikan di Tugu Raja Silahi Sabungan di Silalahi Na Bolak, anak Raja Silahisabungan ialah Delapan (8) dan telah melahirkan banyak marga keturunannya, termasuk semua marga SILALAHI yang adalah merupakan anak (gelleng) dari antara delapan anak-anak tersebut.

Masalahnya ialah  : (1) Silalahi Raja mengklaim mereka bukan keturunan atau berasal dari Silalahi Nabolak. (2) Silalahi Raja mengklaim bahwa keturunan Silalahi Nabolak adalah adik-adik mereka dari ibu yang berbeda. Sementara Keturunan Silalahi Na Bolak mengatakan bahwa Silalahi Raja ialah anak/keturunan dari Silalahi Nabolak.

Di berbagai blog ajau jejaring sosial (internet) ada banyak perdebatan (polemik) membahas tentang Raja Silahi Sabungan. Menggelitik juga karena ternyata :

Raja Silahisabungan di Silalahi Na Bolak (sesuai yang tertulis di Tugunya) jelas berbeda dengan Ompu Raja Silahisabungan di Pangururan (sesuai yang tertulis di Tugunya). Tidak fair jika Silalahi Raja secara sepihak mengakui keturunan Raja Silahisabungan di Silalahi Na Bolak sebagai adik mereka, sementara 8 anak-anak  Raja Silahisabungan di Silalahi Na Bolak tidak mengakui Silalahi Raja Sebagai anak sulung Raja Silahisabungan, melainkan gelleng (anak) marga keturunan dari Silalahi Na Bolak, sebagaimana marga Silalahi di Balige dan di Silalahi Nabolak umumnya.

Indentitas marga Silalahi adalah identik dengan Silalahi Nabolak, bukan dengan mereka yang menumpang tinggal ditanah peranatauan, seperti di Balige negeri Sinagotnipohan, di Pangururan atau di Tolping Ambarita negeri Nai Ambataon (Parna).                                                   @bunganabontar…


Leave a comment

RHOMA IRAMA DITUDUH KAMPANYE HITAM “SARA”

Entah itu bagian dari dakwah ataupun ada maksud lain, siapa tau ? Lidah tidak bertulan ! Pedangdut gaek Haji Rhoma Irama menjadi polemik akibat ceramahnya dalam acara Safari Ramadhan Fauzi Bowo pada acara shalat tarawih di Masjid Al Isra Tanjung Duren, Jakarta Barat. Sebagai Ulama, Rhoma Irama wajib menyampaikan perintah Allah kepada jamaah. Tetapi kalaupun begitu, ceramah Rhoma Irama dalam acara Safari Ramadhan pasangan Foke-Nara mengundang respon dari banyak pihak, termasuk Panwaslu DKI. Rhoma membantah jika ia bagian dari Jurkam Foke-Nara, masalahnya ceramah shalat tarawih mengapa harus sampai kepada esensi pemilihan pemimpin bagi umat muslim ? Memang pada dasarnya, konteks dakwah dan keyakinan agak sulit bila dikaitkan dalam hokum KUHP. Celakanya, ceramah tersebut dalam sebuah acara safari Ramadahan Cagub Fauzi Bowo, timbul dugaan Rhoma Irama sebagai “orang” dari Pasangan Foke-Nara tetapi itu dibantah Rhoma Irama. Panwaslu DKI melihat ini sebagai Kampanye Hitam, dilakaukkan ditempat Ibadah (Masjid), mengangkat isu Sara, dan dapat dikenakan sanksi pidana. Dihadapan pers, Rhoma Irama sempat menagis ketika konferensi pers dalam rangka memenuhi panggilan Panwaslu DKI, terharu, karena ia merasa hanya berdakwah…..

Kampanye Sara Dibenarkan (?)  “Didalam mengkampanyekan sesuatu, SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi, masyarakat harus mengetahui siapa calon pemimpin mereka,” kata Bang H. Rhoma Irama (tim pasangan calon gubernur FOKE-NARA – Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli) saat memberikan ceramah shalat tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Minggu, (29/7/2012). “Saya dapat berbicara seperti ini karena memang dibenarkan Ketua Dewan, Jimly Asshidiqie,” tambah Bang Haji Rhoma Irama nama Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jimly Asshidiqie atas dasar pembenaran penggunaan isu SARA..- pada saat kampanye (?). Selain ceramah membenarkan kampanye SARA, Bang Rhoma Irama juga mengajak jemaah masjid untuk memilih calon pemimpin yang seiman. Dalam kesempatan tersebut, Rhoma juga mengingatkan (warga) Jakarta jangan menjadi seperti Singapura-nya Indonesia pada 1972, yang saat itu dikuasai oleh Lee Kuan Yew, yang berasal dari etnis tertentu. . “Islam itu agama yang sempurna, memilih pemimpin bukan hanya soal politik, melainkan juga ibadah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas masyarakat Jakarta,” ujar Rhoma Irama.

Sedangkan Fauzi Bowo lebih banyak mengingatkan tentang berkah di bulan Ramadhan. “Di bulan Ramadhan mari saling mempererat hablun minannas dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Bulan ini merupakan kesempatan emas melakukan ibadah lebih tekun dan khusyuk agar mendapat bonus Allah,” ujar pria yang akrab disapa Foke ini. Foke juga mengklaim keberhasilannya dalam membuat suasana kondusif selama memimpin Jakarta. “Jakarta ini bukan kota yang sederhana. Saya bersyukur, selama saya memimpin, tidak ada satu pun masyarakat Jakarta yang memaksa mereka berhenti melaksanakan aktivitas,” tutur Foke. Turut hadir dalam Safari Ramadhan Foke-Nara di Tanjung Duren adalah Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Fajar Pandjaitan, Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, dan beberapa petinggi harian Poskota.

Panwaslu DKI :  Rhoma Irama Kampanye Terselubung, Menghina Dengan Isu Sara, Rhoma Irama Diancam Pidana ”Kami sudah punya videonya, durasi tujuh menit, akan kami jadikan barang bukti. Dari bukti rekaman yang kami lihat, Rhoma melakukan penghinaan (terhadap calon gubernur lainnya) dengan isu SARA.” kata Ketua Panwaslu DKI, Ramdansyah. Masih menurut Ramadansyah, video ceramah Rhoma yang dilaporkan ke Panitia Pengawas Pemilu DKI Jakarta, dalam ceramah itu, Rhoma melakukan kampanye terselubung sekaligus memojokkan calon pasangan lain, Joko Widodo-Basuki Tjahaja, dengan isu SARA. Atas kasus ini, Rhoma dianggap melakukan tindak pidana pemilu dan melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Ia dianggap melanggar Pasal 116 Ayat 1 tentang Kampanye di Luar Jadwal dan Pasal 116 Ayat 2 tentang Penghinaan terhadap Calon Gubernur dengan Isu SARA. Ia terancam dijerat hukuman penjara tiga sampai 18 bulan.sebagaimana kutipan Tempo (3/8/2012). Rencananya Panwaslu DKI Jakarta akan panggil Haji Rhoma Irama pada hari Senin, 6/8/2012, mendatang.

Foke Bela Rhoma Irama – Rhoma Irama Bantah Sebagai Tim Kampanye Foke-Nara  Sementara itu, Rhoma membantah bahwa dia menjadi bagian dari tim kampanye Fauzi-Nara. Haji Rhoma Irama juga membantah tudingan kalau ia  telah mengarahkan warga untuk memilih Fauzi-Nara untuk Pilgub DKI Putaran Kedua nanti. Sebelum menunaikan salat Jumat di Masjid Al-Muttaqien, Cilandak Barat, Jumat, 3 Agustus 2012, Foke membantah bahwa isi ceramah Rhoma Irama merupakan ajakan bagi warga agar memilih dirinya dalam pemilihan gubernur putaran kedua pada 20 September 2012 mendatang.  “Saya kira ceramah Rhoma tidak keliru, ya. Asal jangan mengajak masyarakat berperilaku SARA,” kata Foke. Tempo, 3/8/2012.

Rhoma Irama Bantah Sebagai Jurkam Foke-Nara : “Saya Ulama …. “Rhoma mengingatkan bahwa ceramahnya beberapa waktu lalu dalam kapasitasnya sebagai seorang ulama, bukan bagian tim kampanye pasangan Foke-Nara. Namun, dia tidak menampik banyak warga yang menyangka bahwa dia bagian dari tim kampanye, mengingat dia hampir selalu ada bersama pasangan Foke-Nara dan sempat muncul dalam iklan kampanye Foke-Nara. “Saya hanya menyampaikan ayat yang tertuang di Al Quran. Saya siap menerima konsekuensi. Saya bukanlah bagian dari tim kampanye pasangan Foke-Nara, apalagi juru kampanye,” ungkap Rhoma Iraama kepada wartawan, Jumat (3/8/2012).

Dalam menghadapi masalah ini, Rhoma tidak mau menggunakan jasa pengacara untuk membantunya lepas dari masalah hukum, yang kemungkinan dapat membelitnya. Ia meyakini apa yang dilakukannya benar sehingga tidak takut menghadapi pemeriksaan Panwaslu, Polisi, dan Jaksa.  “Tim Foke-Nara dan sekitar lima kelompok lain menawari saya bantuan hukum. Namun, saya tolak semua karena saya tidak takut,” tandas Rhoma Irama.

Pemimpin Berbeda Agama Rhoma Irama juga bicara tentang transparansi, bahwa Joko Widodo orang Jawa beragama Islam sedangkan Basuki Cahaya alias Ahok orang Cina dan beragama Kristen. Sebagai muslim tentu tidak merekomendasikan pemimpin yang non muslim. Rhoma Irama merasa wajib mengingatkan umat Islam agar memilih pemimpin yang beragama Islam, sesuai ajaran Islam.

Kita hanya bisa berdoa semua hal ini bisa berakhir dengan keputusan dan izin Tuhan. Bahwa sejak perjuangan kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan, bangsa Indonesia bertumbuh dan   berkembang dalam keberagaman. Hanya dengan pikiran bijak serta saling menghormati sajalah bangsa ini dapat berkembang sebagai bangsa yang besar. Kalaupun bangsa non muslim dikatakan kafir, tetap saja mereka memiliki andil dalam membangun dan membesarkan bangsa Indonesia. Kalau saja ini diingkari, maka siapakah yang mungkar ?


Leave a comment

RAJA SILAHISABUNGAN ATAU OMPU RAJA SILAHISABUNGAN

Bicara Tarombo Batak memang agak unik dan akan melelahkan untuk ditelaah. Namun sangat jelas, semua kembali kepada nurani dan persepsi kita sendiri. Perdebatan tarombo tidak akan ada habisnya, karena semuan pribadi memiliki prinsip dan privasi berdiri pada kaki masing-masing. Butuh wawasan dan EQ untuk bisa melihat kebenarannya. Saya yakin, manusia modern pada akhirnya akan meninggalkan hal-hal yang inefesien, dalam hal ini adat istiadat, termasuk juga tarombo. Namun adalah manusiawi, karena kita hidup dari warisan-warisan orangtua kita, yang menghargai adat, sosial dan kerukunan samawi. Gondang dia gondang muna, ai gondanghu do na hutortori.

Dalam buku PUSTAHA BATAK “Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak” karya fenomenal WM Hutagalung, halaman 255 ditulis bahwa : “Datu Naboratan meninggal dan dikuburkan di Pangururan Samosir. Datu Naboratan adalah keturunan Raja Parmahan yang dinobatkan memakai marga Silalahi – alias Silalahi Raja Parmahan – di Hinalang Silalahi, Pagarbatu, Balige. Keempat anak Silalahi – Raja Parmahan – ialah Sinaloho, Sinagiro, Sinabang dan Sinabutar. Datu Naboratan adalah anak dari Sinabang.” Keturunan dari Silalahi alias Raja Parmahan alias Raja Bunga-bunga saat ini telah diabadikan berupa sebuah TUGU RAJA PARMAHAN SILALAHI di Balige, Sumatera Utara.

Selanjutnya dalam paragraf ke 3, hal 255 buku PUSTAHA BATAK berbunyi: “Sian i lao muse ibana (Red. Datu Nabaratan) tu Pangururan Samosir jala mangalap boru disi. Maringangan ma ibana di Pangururan. Tubu dope anakna disi Sibursokraja. Margoar ma ibana muse disi ima Ompu Lahisabungan. Mate jala tartanom disi ma ibana.” Yang artinya : Dari Hinalang Balige, Datu Naboratan putra Sinabang kemudian menuju Pangururan. Datu Naboratan kemudian menikah dan tinggal di Pangururan ( apakah sekarang Lumban Silalahi Pangururan ? ). Datu Naboratan kemudian memiliki anak (Sibursokraja) dan kemudian Datu Naboratan digelari Ompu Lahi Sabungan. Ompu Lahi Sabungan kemudian meninggal dan dikuburkan di Pangururan, Samosir.

Sebahagian keturunan Sibursokraja di Pangururan,  keturunan Datu Naboratan, sudah memperbaiki dan menggariskan tarombo keturunan mereka menjadi : RAJA SILAHISABUNGAN > SONDIRAJA >RUMASONDI > SILALAHI RAJA PARMAHAN alias RAJA BUNGA-BUNGA > SINABANG > DATU NABORATAN ALIAS OMPU LAHI SABUNGAN > SIBURSOK RAJA > keturunannya memakai marga Silalahi yang bermukim di Pangururan dan sekitarnya.

MAKAM OMPU LAHISABUNGAN BERUBAH MENJADI MAKAM OMPU RAJA SILAHISABUNGAN ?
Kita kemudian bertanya-tanya dan menduga-duga… Pertanyaannya, apakah ada hubungan antara keturunan Sinabang – dari Hinalang Silalahi, Balige, yaitu Datu Naboratan alias Ompu Lahisabungan yang kemudian merantau dan menikah di Pangururan- dengan keturunan Silalahi Raja di Pintu Sona, Pangururan atau di Tolping sekitarnya ?

Konon keturunan Sibursokraja yang kini memakai marga Silalahi mendiami negeri sekitar Pangururan, Samosir. Keanehan kemudian terjadi, berkisar pada tahun 1972, yang mana kemudian makam dan nama Ompu Lahi Sabungan berubah menjadi Ompu Silahi Sabungan dan makam Datu Naboratan alias Ompu Lahi Sabungan berubah menjadi Makam Ompu Raja Silahi Sabungan. Lalu, adakah korelasi keberadaan marga Silalahi keturunan Si Bursokraja dengan Silalahi Raja?

Sementara menurut Silalahi Raja, bahwa Bursokraja adalah anak dari Silahiraja, juga Tolpingraja dan Raja Bunga-bunga. Tolpingraja mendiami tanah Tolping – yang notabene milik keturunan Naiambaton – sedangkan Raja Bunga-bunga dibawa ke Balige oleh Sihubil, keturunan Sibagotnipohan.

Bandingkan dengan tarombo Silalahi Raja Parmahan di Hinalang Silalahi, Balige. Dikatakan bahwa Silalahi Raja Parmahan adalah keturunan dari Silalahi Nabolak, yaitu anak dari Sondiraja, salah satu anak dari Silahisabungan dengan Pingganmatio Padangbatangari. Di Hinalang Silalahi Pagarbatu Balige saat ini telah berdiri megah Tugu Makam Raja Parmahan – Silalahi, yang memeiliki 4 anak dan salah satunya bernama Sinabang yang memiliki anak bernama Datu Naboratan. Datu Naboratan yang konon juga sebagai seorang tabib nan sakti ternyata memiliki banyak istri dan keturunan. Datu Naboratan seringkali berkelana ke suatu negeri dan memeiliki istri-anak di setiap negeri yang ia singgahi. Konon Datu Naboratan kemudian menikah lagi di Pangururan Samosir dan mempunyai anak bernama Bursokraja.  Sehingga ………….

Pertama :
Sampai hari ini, hal ini kemudian menjadi perdebatan karena kelompok Silalahi Raja Pangururan/Tolping bersikukuh dan tidak membenarkan keberadaan Tugu Makam Raja Silahisabungan dan Tarombo di Silalahi Nabolak, sekaligus juga keberadaan Tugu Makam Silalahi Raja Parmahan di Hinalang Silalahi Pagar Batu Balige.

Kedua :
Keturunan marga Silalahi Raja  Pangururan ( Pintu Sona sekitarnya ) bersikukuh bahwa mereka adalah anak sulung (buha baju) Raja Silahisabungan di Samosir. Jelas saja klaim ini dianggap tidak relevan oleh semua keturunan Raja Silahisabungan diaspora Silalahi Nabolak. Demikian halnya dari tulisan ke tiga pendekar tarombo ini tidak sedikitpun menyinggung atau menyiratkan keberadaan Silalahi dalam tarombo sebagai anak sulung (buha baju) dari Silahisabungan.

Kita mungkin sudah sering mendengar bahwa kelompok ada marga Silalahi Raja Pangururan atau Tolping menyakini tarombo mereka sendiri. Menurut mereka bahwa Raja Silahisabungan memiliki 3 istri. Yang pertama ialah putri klan Simbolon di Pangururan, dan Silahiraja adalah anaknya. Masih menurut mereka, Silahiraja kemudian memiliki 3 anak, yaitu : Tolping raja, Bursok raja dan Raja Bunga-bunga (mengapa tidak Bunga-bunga raja ?) yang semuanya memakai marga Silalahi Raja.
Sekali lagi, apakah ini tentang satu oknum Raja Silahisabungan yang sama atau tidak ?

Yang menjadi aneh ialah ketika Silalahi Raja mengakui Pingganmatio Padangbatangari di Silalahi Nabolak dan Siboru Nailing Nairasaon di Sibisa sebagai istri Raja Silahisabungan. Akan tetapi Silalahi Raja tidak serta merta mengakui turasi / tarombo Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak. Sebaliknya juga, di Silalahi Nabolak tidak tau-menahu dengan keberadaan Silalahi Raja sebelumya di Pangururan / Tolping sebelum keberadaan Silalahi di Pakpak Dairi !

RAJA SILAHISABUNGAN : 2 OKNUM YANG BERBEDA ?
Artinya jika dirunut, maka menurut saya ada dua oknum Raja Silahisabungan yang berbeda dan memiliki legenda yang berbeda tentunya. Itu sebabnya ketika kedua legenda ini coba disatukan maka tidak ada kesesuaian atau titik temu, karema memeang adalah dua oknum yang sama sekali tidak sama satu dengan yang lain.

Di berbagai blog ajau jejaring sosial (internet) ada banyak perdebatan (polemik) membahas tentang Raja Silahisabungan. Menggelitik juga karena ternyata : Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak (sesuai yang tertulis di Tugunya) berbeda dengan Ompu Raja Silahisabungan di Pangururan (sesuai yang tertulis di Tugunya).

PUNGUAN SILALAHI RAJA
Ketiga :
Setahu kami, keturunan Silalahi Raja, eksis dibeberapa daerah  sudah membentuk sendiri punguan mereka Pomparan Silalalahi Raja yang nota bene jelas-jelas tidak termasuk (include) dalam tarombo Raja Silahisabungan sebagai mana di Silalahi Nabolak. Jadi kita dapat merunut : Apa dan Mengapa, dan lalu bertindak Apa atau Bagaimana.

Keempat :
Saya kira in pantas kita garisbawahi untuk menyudahi perbedaan pedapat yang tidak perlu bertele-tele dan tanpa ada juntrungnya. Dengan terbentuknya Punguan Silalahi Raja merupakan keabsahan bahwa mereka jelas tidak termasuk dalam Tarombo Raja Silahisabungan sebagaimana di Silalahi Nabolak, yang memiliki 8 anak dan 1 Boru, meskipun kelompok Pangururan secara sepihak memaksakan keturunan Silalahi Na Bolak dalam bagian mereka.

Sehingga : meski saya tidak bisa memastikan siapa yang benar dan siapa yang salah, namun sebagai manusia yang menghormati leluhur, saya tetap berpatokan kepada Tarombo Tugu Raja Silahi Sabungan di Silalahi Na Bolak. Walau demikian, sebagai mahluk samawi, saya menghormati mereka klan Silalahi Raja. Ga perlu repot !


Leave a comment

Nasib Gedung Baru KPK : “Digantung” DPR

Komisi Hukum DPR RI memutuskan untuk menunda pembahasan anggaran gedung baru Komisi Pemberantasan Korupsi. “Akan dibahas lagi di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013,” kata anggota Komisi Hukum, Eva Kusuma Sundari (Rabu, 11/7/2012).
klik disini

KPK Kebanjiran Sumbangan

Komisi Hukum sebelumnya memblokir anggaran tahap pertama pembangunan gedung baru KPK senilai Rp 61,1 miliar dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) KPK tahun ini. Dana itu merupakan bagian dari proyek tahun jamak pembangunan gedung KPK senilai Rp 225,712 miliar. Akibat pemblokiran itu, KPK kebanjiran sumbangan untuk pembangunan gedung. Jumlah sumbangan mencapai Rp 186 juta pekan lalu.

KPK Kiamat Jika Dana Urung Cair ?

Ketua Komisi Hukum I Gede Pasek Sardika mengatakan masih ada perbedaan pendapat di Komisi DPR mengenai persetujuan pembukaan tanda bintang anggaran gedung baru KPK. Menurut Pasek, pencairan pada tahun anggaran 2012 masih mungkin dilakukan.

Lebih jauh, Pasek berjanji mengawal anggaran hingga disetujui. Untuk sementara, kata dia, KPK masih bisa menggunakan gedung lama. “Kan tidak akan kiamat KPK kalau anggarannya tidak dicairkan sekarang,” kata I Gede  Pasek.


Leave a comment

SILAHISABUNGAN : RAJA BIUS SILALAHI NABOLAK DAN KETURUNANNYA

Tugu Raja Silahisabungan Dilihat dari Danau Toba

Awalnya adalah nama Si Lahi Sabungan. Kata “Si” dibagian depan dalam literatur Toba maupun Melayu merupakan kata imbuhan yang merujuk terhadap sifat maupun keadaan suatu objek/oknum yang dimaksud. Sama halya dalam kata sehari-hari seperti : Si hitam, Si Birong, Si Bungkuk, Si Tolping, Si Bulan dan sebagainya. Si Lahi Sabungan merujuk pada dua sifat /karakter yang tergambar dalam oknum ini, yaitu : “Lahi” ( Pria ) dan “Sabungan” (Perkasa), sehingga makna harafiah yang dimaksud untuk pemilik nama ini dapat dimaknai  manjadi Si Pria Perkasa, yaitu Si Lahi Sabungan yang pada era modern ini di eja menjadi Silahi Sabungan atau Silahisabungan.

Menurut tarombo suku Toba, Silahisabungan berasal dari keturunan Sorbanibanua, yang berdiam di dataran tinggi Toba, kota Balige. Meranjak dewasa, Silahisabungan bersama dua saudaranya ( yaitu Si Paittua dan Si Raja Oloan) kemudian meninggalakn negeri Balige untuk merantau ke negeri asing. Singkat cerita, Si Paittua kemudian memeilih tinggal di negeri Laguboti, kemudian Si Raja Oloan memeilih tinggal di Negeri Pangururan Samosir, dan Si Lahisabungan kemudian memeilih berdiam di negeri Pakpak, Dairi, yang kini disebut negeri Silalahi Nabolak.

Legenda (turi-turian) Si Lahisabungan di Negeri Pakpak Dairi. 

Setelah Raja Pakpak bergelar Raja Perultep, tiba di kampungnya yang bernama Balna, ia segera disambut gembira oleh istri dan anak-anaknya. Mereka heran melihat ikan yang begitu banyak dibawa sang Raja Pakpak. “Dari mana ikan sebanyak ini ? Biasanya bapak membawa daging rusa atau burung, sekarang jadi lain ?, “ kata istrinya, Raja Parultop pun lalu menceritakan pertemuannya dengan seorang pria yang bernama Si Lahisabungan. Raja Pakpak juga akhirnya menjelaskan perjanjian antara dia dan Lahisabungan, tentang janji pertunangan puterinya dengan Lahisabungan.

Istri Raja Parultop merasa gembira mendengar berita itu. Ia lalu berpikir untuk mempersiapkan segala sesuatunya ketika hari  pertunanagan nanti tiba. Hari yang ditentukan pun tiba, Raja Pakpak bersama rombongannya berangkat menyusuri  bukit belantara Pakpak. Saat ini, bukit ini dinamai bukit Lahisabungan, ada pula yang menyebutnya Laksabungan. Raja Pakpak lalu menyalakan api sebagai kode pertanda bahwa mereka sudah datang. Melihat asap api itu, Si Lahisabungan juga menyalakan api tanda balasan bahwa ia telah siap menyambut kedatangan rombongan Raja Pakpak.

Silahisabungan menyambut rombongan Raja Parultop di lembah bukit , ditepian sungai yang agak dalam airnya. Raja Pakpak bertanya dalam hati, mengapa Silahisabungan menyambut kami disungai yang agak dalam airnya ini ? Raja Pakpak tidak menyadari kalau dirinya telah diperdaya Si Lahisabungan. Kemudian Silahisabungan berkata : “ Tulang Raja Nami (paman), suruhlah putrinya menyeberangi sunagi satu -persatu dan akan kupilih yang akan menjadi istriku. Mendengar ucapan Silahisabungan, Raja Parultop terperangah dan akhirnya menyadari mengapa Silahisabungan menyambut mereka ditepi sungai dan menyuruh puterinya menyeberangi sungai satu-persatu sambil menjujung bakul berisitipa-tipa (sejenis makanan tradisonal kuno jaman dulu).

Dari mulai puteri pertama sampai putrid ke enam, semuanya cantik rupawan, rambutnya bagaikan mayang terurai tetapi satupun tidak mengenai dihati Silahisabungan. Saat putri ketujuh memiliki paras sedikit jelek dan mata agak juling, tiba-tiba Silahisabungan melompat menyambut putri ketujuh Raja Pakpak : “ Inilah pilihanku paman, menjadi istriku, mudah – mudahan paman merestui. Semoga Mulajadi Nabolon (Tuhan) memberkati kami menjadi rumah tangga yang bahagia dan mempunyai keturunan yang banyak, “ kata Silahisabungan.

Menutupi rasa malu bahwa Silahisabungan telah menyiasati rencana tipu muslihatnya, Raja Pakpak  lalu bertanya kepada Silahisabungan : “ Mengapa kau pilih putri bungsu ini ? Perawakannya agak pendek dan rupanya pun jelek, padahal semua kakaknya jauh lebih cantik parasnya “. Kemudian Silahisabungan menjawab : “ Raja , memang semua kakak-kakaknya cantik rupanya, tetapi tidak merasa malu tadi menarik sarungnya keatas lututnya sewaktu menyeberangi sungai ini, “ kata Silahisabungan halus. ( konon pada jaman dahulu, seorang perawan adalah tabu untuk menyingkan penutup tubunya, apalagi dihadapan orang tua maupun orang asing. Hal demikian akan dianggap tidak memiliki moral dan sangat tabu ). Yangs sebenarnya Silahisabungan tau bahwa keenam gadis itu adalah manusia jejadian ( jolma so begu ) yang sengaja dibuat Raja Parultop untuk menguji kesaktian Silahisabungan. Tetapi hal itu tidak dinyatakan Silahisabungan secara buka-bukaan supaya jangan mempermalukan Raja Parultop diantara rombongannya. Sejak itu, sungai itu bernama “ Binanga so maila “.

Raja Parultop dan istrinya merestui dan memberkati putri dan menantunya, lalu berkata :
“ Putriku, sejak saat ini aku menamaimu Pingganmatio Padangbatangari, semoga hatimu menjadi jernih dan berhasil dikemudian hari, menjadi istri yang melahirkan anak-anak yang : hebat, gagah perkasa, bijaksana dan menjadi kebanggan semua orang.”

“ Dan untuk menantuku yang baik, engkau memiliki nama Silahisabungan ( red. = anak yang unggul ), unggul dalam perkataan, unggul dalam kepintaran dan unggul dalam kesaktian. Engkau sudah menunjukkan kepinatan dan kesaktianmu dalam menentukan istrimu, semoga kamu berhasil tidak habis-habisnya, diberkati Yang Maha Kuasa, menjadi pemimpin yang besar dan termashyur.”

Setelah memberkati demikian, rombongan Raja Parultop kembali ke Balna, tinggalah Silahisabungan dengan Pingganmatio Padangbatanghari memulai hidup baru dan membuka kampung yang mereka namai Huta Lahi di lereng bukit Lahisabungan. Berselang sembilan bulan, rasa rindu pun mulai bergelora untuk berjumpa dengan orang tuanya. Pingganmatio Padangbatangari lalu mengajak Silahisabungan pergi ke Balla mengunjungi keluarga. Silahisabungan yang sangat sayang kepada isteri tercinta mengabulkan dengan senang hati.

Legenda : Mual Si Paulak Hosa
Ketika Silahisabungan dengan Pingganmatio Padangbatanghari menuju mertuanya di Balna, sewaktu mendaki bukit Lahisabungan, tiba-tiba Pingganmatio Padangbatangari yang tengah hamil tua mulai merasa dahaga sehingga mereka istirahat sejenak dilereng bukit. Rasa haus Pingganmatio makin terasa sampai ia bersenandung dengan sedih : “ Loja ma boruadi mamboan tua sian mulajadi, mauas ma tolonan ndang adong mangubati. Jonok do berengon sillumalan na so dundungonki, boha do parsahatku tu hota ni damang parsinuan, dainang pangintubu i, “ katanya. ( sudah lelah aku membawa kandungan, tak ada yang mengobati rasa haus ini. Tampak nian dekat air danau, tetapi apa daya tangan tak sampai menjangkau. Bilakah aku tiba di rumah bertemu ayah dan ibu ku….. )

Mendengar senandung Pingganmatio Padangbatangari, Silahisabungan lalu mengambil Siorlombing (tombak) lalu berdoa kepada Mulajadi Nabolon agar diberikan air penghidupan ( mual sipaulak Hosa ). Silalahisabungan lalu menancapkan tombak ke tebing batu dan keluarlah air mengucur dengan derasnya dan Pingganmatio minum sepuasnya. Air (pancuran) itulah yang sampai saat ini disebut ”Mual Si Paulak hosa” yang terdapat dilereng bukit Lahisabungan, di Silalalahi Nabolak.

Setelah rasa haus hilang dan tenaga mulai pulih,mereka meneruskan perjalanan menuju mertuanya di Balla. Kedatangan Silalahisabungan dan Pingganmatio disambut keluarga Raja Parultop dengan gembira
apalagi setelah melihat Pingganmatio tengah hamil tua. Karenanya, mertua Silahisabungan meminta agar putrinya tinggal di Balla sampai menunggu kelahiran anaknya, karena di Huta Lahi tidak ada teman mereka membantu. Setelah beberapa bulan mereka tinggal di Balla, Pinggan matio melahirkan seorang anak laki-laki. Silahisabungan merasa gembira dan bersyukur karena dia sudah menjadi seorang ayah. Begitu juga Raja Parultop dan istrinya merasa berbahagia karena sudah ada cucu dari putrinya Pinggan matio. Mereka berencana untuk mengadakan perhelatan besar sambil memberi nama cucunya itu. Rencana itu diberitahukan kepada menantunya Silahisabungan, yang disambut dengan senang hati.

Raja Parultop lalu mengundang Raja-raja dan penduduk negeri untuk menerima adat dari Silahi sabungan sambil menobatkan nama cucu yang baru lahir. Pada pesta perhelatan itu Raja Parultop berkata : “Saudara sekalian, sudah lebih satu tahun puteri kami Pingganmatio berumahtangga dengan Silahisabungan, kini mereka telah dianugerahi Tuhan seorang anak laki-laki. Selama ini kami merasa ragu-ragu karena belum terlaksana adat yang berlaku. Hari ini tibalah saatnya anak menantu kami membayar adat sekaligus memberi nama cucu yang baru lahir dan menobatkan ayahnya menjadi Raja.”
Kemudian Raja Parultop mengatakan : “ Nunga lolo raja, jalanunga loho roha, hubanen ma goar ni pahompu on Si Lihoraja.” ( Sudah berkumpul semua Raja-raja, sudah pula lega hati (liho) ini, maka kami berikan nama cucuku ini Si Lohoraja, katanya.
Kelak putera sulung Silahisabungan, si Lohoraja kemudian dijodohkan (dipaorohan ) dengan putri pamannya (marboruni Tulang), yaitu Ranimbani Padangbatanghari.