Bunganabontar

A little marginal voice powered by WordPress.com


Leave a comment

Gayus Hanya divonis 7 Tahun Dan Denda Rp.300 Jt

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (19/1) siang menjatuhkan voniv 7 tahun penjara serta denda Rp. 300 jt atas terdakwa kasus mafia pajak Gayus Halomoan Partahanan Tambunan. Gayus divonis tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta karena terbukti melakukan korupsi saat menangani keberatan pajak PT Surya Alam Tunggal (SAT). Vonis dibacakan hakim Albertina Ho. Majelis hakim menilai, Gayus terbukti terlibat korupsi, menyuap, dan memberikan keterangan palsu. Gayus dijerat empat pasal, yakni Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 Undang-Undang Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, serta Pasal 3 jo Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebelumnya  tuntutan jaksa menuntut Gayus hukuman 20 tahun penjara. Menurut Albertina, hal yang memberatkan terdakwa adalah tindakannya berlawanan dengan usaha pemerintah dalam memberantas korupsi dan menggenjot penerimaan dari pajak. Adapun hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum dan masih mempunyai anak kecil. Menanggapi itu, spontan jaksa mengajukan banding. Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Amari mengatakan hal tersebut di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (21/1/2011) saat ditanya apakah Kejaksaan Agung akan mengajukan banding. Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus mafia peradilan yang melibatkan Gayus HP Tambunan telah mengajukan banding dengan No.perkara 1195/Pid.B/2011/PN.Jkt.Sel.


Leave a comment

INTEGRASI KETURUNAN RAJA SILAHISABUNGAN

Sebagaimana turi-turian (cerita rakyat) dan tarombo yang umumnya berlaku dalam kultur masyarakat Toba , khususnya keturunan Raja Silahisabungan, bahwa Silahisabungan adalah salah sau putra dari Sorbadi Banua , cucu Siraja Batak, yang lahir dan dibesarkan di Lumban Gorat, Balige. Konon Tuan Sorbadi Banua memiliki 4 putra, yaitu :  Sibagotni Pohan, Silahisabungan, Sipaittua dan Siraja Oloan. Sibagotni Pohan bertahan bermukim di Balige. Silahisabungan, Sipaittua dan Siraja Oloan kemudian memilih merantau meninggalkan Toba Holbung  Balige dan mencari tempat tinggal masing-masing. Siraja Oloan memilih tinggal di sekitar Laguboti. Sipaittua kemudian memilih menetap di Pangururan Samosir dan tetapi kemudian berpindah ke Bakkara, sementara Silahisabungan kemudian memilih menetap di Silalahi Nabolak, yang awalnya bernama Huta Lahi, tanah hutan belantara Pakpak di tepian danau. Belakangan, belantara tersebut dinamai Dolok Silalahi, tepian danaunya juga dinamai Tao Silalahi, karena area pemukiman Raja Silahisabungan dan keturunannya kemudian dinamai Silalahi Nabolak (saat ini Kecamatan Silahisabungan merupakan teritori Kabupaten Dairi, Sumatera Utara). Latar belakang penamaan Silalahi sendiri sudah barang tentu dipengaruhi kultur Pakpak Dairi, sebagai mana teritori Silalahiabolak merupakan bagian teritorinya. Konon nama perkampungan (huta) Raja SIlahisabungan adalah Huta Lahi. Namun pada perkembangan pelavalannya menjadi Lalahi atau Si Lalahi  yang dalam bahasa Pakpak / Dairi berartikulasi Pria atau Lelaki. Pelavalan Si Lalahi menjadi familiar di ranah Pakpak / Dairi sehingga Silalahi merujuk pada negeri / tempat Raja Silahsabungan berserta seluruh keturunannya berada. Huta  Lahi berunah menjadi Silalahi dan sementara danau dipesisirnya disebut Tao Silalahi sampai saat ini. Setelah ketujuh anak-anak Raja Silahisabungan dewasa, berkeluarga dan menikah, maka diadakanlah Horja Bius Parsanggaran. Pasca diadakannya Horja Bius Parsanggaran Raja Silahisabungan, maka ke-7 anak-anak Raja Silahsabungan kemudian ditetapkan untuk mendiami 7 perkampungan, masing-masing dibagi dan ditetapkan menurut kelompok (turpuk) ketujuh anak-anak Raja Silahisabungan. Sementara keseluruhan negeri yang didiami oleh keturunan Raja Silahsabungan (Bius Parsanggaran) dinamai Silalahi Nabolak.

PODA SAGU-SAGU MARLANGAN

Merupakan kebanggaan tersendiri untuk kita Pomparan (keturunan) Raja Silahisabungan dewasa ini. Sebagai pomparan, kita diwariskan suatu Poda (wejangan) supaya para keturunannya kelak dapat memahami dan melaksanakannya, yaitu Poda Sagu-sagu Marlangan. Memang , secara ilmiah, validitas atau keabsahan sebuah turi-turian (cerita rakyat) sangatlah lemah, karena tidak dapat dibuktikan denga fakta-fakta transkrif.  Alangkah naif  juga apabila ini kemudian menjadi polemik yang sangat berkepanjangan bila dipermasalahkan. Namun satu hal yang perlu kita perhatikan adalah visi, niat dan kearifan Raja Silahisabungan untuk masa depan keturunanannya. Dan ini telah diturunkan secara turun temurun (warisan) bagi keturunannya di Silalahi Nabolak, sebagai Bona Pasogit (tanah leluhur) yang diwariskan oleh Raja Silahisabungan kepada keturunannya.Pinungka ni Sijolo-jolo tubu , ihuthonon ni na parpudi. Artinya bahwa norma –norma kultur dan sosial yang telah ditetapkan dan dilaksanakan oleh para leluhur maka itu pulalah yang akan terus dilaksanakan oleh para keturunannya, sampai saat ini. Tentu saja semua ini diadaptasikan oleh perjalanan waktu dan sejauh bersesuaian dengan situasi dan perkembangan nilai-nilai kultur-sosial , modernisasi kehidupan manusia sepanjang jaman. Terkait budaya, norma adat-istiadat, turi-turian maupun tarombo, adakalanya kita sering diperhadapkan dengan perbedaan-perbedaan pemahaman maupun perspektif. Dapat dimaklumi karena memang kita hanya berdasar dari cerita-cerita rakyat (dongeng turun temurun) yang kita dapatkan dari masing-masing leluhur. Sebagaimana pepatah “lain padang lain belalang” maka dapat dipastikan kadar dan warna kulturnya akan berbeda. Umunya kultur budaya di Silalahi Nabolak sedikit bebrbeda dengan di Toba Holbung ataupun di Samosir. Ada ciri tertentu. Untuk masa kini, dimana Pomparan Raja Silahisabungan telah terserak dari Silalahi Nabolak dan berdiam dari generasi ke generasi ke seluruh penjurunya, seperti : Pakpak Dairi, Karo, Simalungun, Samosir, Toba dan Deli. Adalah integrasi / kesatuan sesama pomparan Raja Silahisabungan dalam satu ikatan kekeluargaan , sebagaimana ideologi kultur Toba umumnya, yaitu Dalihan Natolu. Mar Hula-hula, mar Dongan Tubu, mar Boru dan Bere / Ibebere dalam Punguan (integrasi) Pomparan Raja Silahisabungan yang ada (hampir) diseluruh kota-kota wilayah Indonesia.  Kita dituntut untuk dapat menyikapinya dengan sikap jernih dan berbesar hati. Dengan tidak memperbesar perbedaan perspektif maupun pemahaman dengan tujuan untuk persatuan. Namun satu hal yang paling penting adalah dengan tujuan “tidak merusak” apa yang telah dilakukan dan diwariskan oleh para leluhur kita, sebagai kultur dan budaya , khususnya pomparan Raja Silahisabungan diaspora Silalahi Nabolak.

Ada 7 (tujuh) dari 8 (delapan) anak-anak Raja Silahisabungan berkembang di Silalahi Nabolak, yaitu Lohoraja, Tungkirraja, Sondiraja, Butarraja, Dabaribaraja, Debangraja dan Baturaja. Ketujuh anak-anak Raja Silahi Sabungan ini terlahir dari seorang Ibu yang bernama Pingganmatio Padangbatanghari, putri Raja Pakapak Dairi. Sementara Raja Silahisabungan memiliki seorang putra yang lain, yang terlahir dari seorang putri Raja Nairasaon bernama Boru Siboru Nailing, yaitu bernama Tambunraja. Namun kemudian Tambunraja memilih untuk menemui sang paman (Tulang) di Sibisa dan berdiam disana dan kemudian menikahi putri sang paman, Manurung. Di Sibisa , Tambunraja kemudian lebih familiar disebut Raja Tambun. Umumnya, keturunan Raja Tambun memamakai marga Tambun di Sibisa Sigotom (Tambun Uluan). Marga Tambun kemudian menurunkan marga keturunannya, uaitu marga Tambunan di Toba Holbung Balige. Sebagai materai sedarah diantara seluruh anak-anak Raja Silahisabungan , yang dikenal dengan Poda Sagu-sagu Marlangan, sampai saat ini masih terus berlangsung dan berlaku diantara seluruh keturunan Raja Silahisabungan dewasa ini.

Berurutan, 8 (delapan) anak-anak Raja Silahi Sabungan , secara umum diuraikan sebegaima dibawah ini :

1] LOHO RAJA( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIHALOHO ), 2] TUNGKIR RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SITUNGKIR, SIPANGKAR, SIPAYUNG ), 3] SONDI RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA RUMA SONDI, RUMASINGAP, SILALAHI, SINALOHO, SINABUTAR, SINABANG, SINAGIRO, NAIBORHU, NADAPDAP, SINURAT, DOLOK SARIBU ), 4] BUTAR RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABUTAR ), 5] DABARIBA RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABARIBA ), 6] DEBANG RAJA ( KETURUNANYA MEMAKAI MARGA SIDEBANG ), 7] BATU RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA PINTUBATU, SIGIRO), 8] TAMBUN RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA TAMBUN DAN TAMBUNAN ). Raja Silahisabungan memiliki seorang putri, yaitu Putri Deang Namora dan sampai akhir hayatnya  tidak menikah.

Penting untuk diketahui, pada Fase ini belum ada marga Silalahi. Yang ada adalah negeri Silalahi Nabolak dan Tao Silalahi. Cikal bakal lahirnya marga Silalahi ialah ketika keturununan dari ketujuh anak-anak Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak kemudian merantau dari Silalahi Nabolak. Meninggalkan Silalahi Nabolak, keturunan Raja Silahisabungan ini merantau ke negeri Simalungun, Tanah Karo, Pulau Samosir dan Toba Holbung (Balige).

Silalahi Nabolak sagat kesohor kerena kesaktian Raja Silahisabungan yang sangat disegani sebagai Datu Bolon (Dukun Sakti) pada waktu itu. Sehingga keturunan Raja Silahisabungan dari Silalahi Nabolak sangat disegani diperantauan mereka. Tak heran jika nama Silalahi telah kondang dan familiar disekitar Silalahi Nabolak. Keturunan Raja Silahisabungan ini kemudian cenderung menyertakan Silalahi sebagai identitas mereka diperanatau. Alhasil, diperantauan (diluar negeri Silalahi Nabolak) para keturunan Raja Silahisabungan ini lebih nyaman mengenakan Silalahi sebagai marga keturunan mereka. Itu sebabnya marga Silalahi ada di Simalungun, Tanah Karo, Samosir dan Toba Holbung. Meski demikian, diantara mereka masih mengetahui klan mereka dari antara ketujuh anak-anak Raja Silahisabungan. Itu sebabnya tidak aneh jika kemudian para keturunan yang menyandang marga Silalahi terkadang harus memperjelas klan mereka masing-masing karena ini sangat penting terkait status keturunan (partuturan) dalam format adat diantara keturunan Raja Silahisabungan.

“Maka tak heran kemudian jika marga Silalahi ada di Balige (keturunana Rumasondi), Silalahi ada di Pangururuan, Tolping Samosir (keturunan Sidebang), ada di Simalugun.”

Satu hal yang menjadi kendala ialah situasi dan kondisi waktu itu sangat terabatas (bahkan terputus) komunikasi dan informasi sehingga sekian waktu para keturunan Raja Silahisabungan yang berada di Simalungun, Toba, Samosir tidak saling mengetahui lagi. Barulah kemudian pasca pendudukan kolonial Belanda menguasai dan membuka akses lalu lintas Toba-Simalungun-Pakpak , perjumpaan para keturunan terjadi (memilki satu marga yang sama namun tidak saling mengetahu sebelumnya) akibat terjadinya arus urban ke Sumatera Timur.

Seperti halnya generasi yang tumbuh dan besar di Simalungun, telah berbaur dan familiar dengan kultur Simalungun dan tentu akan terasa ada enggan/kikuk ketika kemudian bertemu dengan klan yang berasal dari Toba Balige atau Samosir, dan demikian pula sebaliknya. Namun bersyukur dalam era globalisasi sekarang ini semuanya telah terungkap  dan berangsur dapat dipahami dan saling menerima.

Ini pula yang menjadi hal yang patut kita fahami bahwa marga Silalahi jelas adalah bagian dari keturunan Silahisabungan yang telah berkembang diluar Silalahi Nabolak. Semakin jelas lagi, di Balige, telah ada Tugu Makam Raja Parmahan Silalahi aliar Raja Bunga-bunga, keturunan Ruma Sondi yang melakukan parpadanan atau perjanjian sedarah (kakak-adik) dengan marga Tampubolon, dan juga dengan Sinambela, Sihite, Sitompul, Simanullang, dll. Sampai saat ini, banyak keturunan Silahisabungan yang tidak/belum mengetahui hal ini, karena ini memang terjadi di Toba Holbung Balige.

Sama juga seperti keturunan Tambun Raja ( yang familiar dipanggil Raja Tambun di Toba , Sibisa ) yang juga tidak mengetahui adanya perjanjian (parpadanan) ini. Karena ada kebiasaan dalam keturunan Raja Silahisabungan bahwa perjanjian Kakak juga menjadi perjanjian Adik, demikian halnya bahwa perjanjian Adik adalah juga menjadi perjanjian Kakak. Namun demikian, dalam era ini banyak situasi dan kondisi yang harus kita pahami dan maklumi, sehingga kultur atau kebiasaan-kebiasaan yang turun-temurun diwariskan telah di update dan diperbaharui sedemikan rupa sepanjang itu masih dalam batas-batas positif dan tidak arogan.

Mengenai Silalahi Raja adalah pemufakatan sepihak dan tidak perlu dibahas.

 


Leave a comment

TAROMBO TOBA : BIAS DAN MISS LINK

Harus kita akui, sampai saat ini belum ada manuscrift yang benar-benar mampu mengarahkan bias-bias legenda yang umumya berlaku di kalangan suku Toba, secara khusus garis keturunan Raja Silahisabungan, maupun Tarombo Batak Toba secara umum. Seorang arkelog Belanda, Bickmore, sendiri mengungkapkan dalam catatannya bahwa ia belum menemukan keberadaan suku Batak sangat tidak jelas. Meski memang peradaban juga yang akan menggambarkan bagaimana proses demi proses alamiah dapat mengubah kultur dan kebiasaan manusia. Marco Polo dan Bickmore sempat mengungkapkan bahwa peradaban suku Batak adalah golongan barbar atau kanibalisme. Bickmore menguraikan rincian lebih khusus, yaitu : Kulit Coklat kehitaman, rambut keriting, tinggi 5 Feet ( ± 150 cm ).  Sepintas kita pasti teringat akan gambaran sosok aborigin / negroid yang memang umumnya mendiami negeri asia-pasifik. Keberadan orang-orang suku Toba yang hampir bisa dipastikan semakin terdesak ke pedalaman (pengunungan) karena derasnya arus migrasi ke Sumatera. Saya menduga pada dekade inilah terjadi pengelompkan suku Batak menjadi 2 kelompok besar, yaitu golongan yang terbuka dan berbaur dengan peradaban baru bersama dengan para imigran dan kelompok suku Batak yang tertutup yang memilih berdiam di gunung-gunung dengan pola kehidupan barbar/kanibal dan terbelakang. Hal ini terlihat dari kultur budaya dan lyfestyle yang agak marginal.

Beberapa tulisan mengenai tarombo Toba bahkan menyisakan polemik dan perbedaan pandangan (berkepanjangan-sampai saat ini) di kalangan suku Toba. Memang sepertinya dipaksakan, Tarombo diadop sebagai doktrin, ekslusif dan sakral meski diluar nalar logika.

Jika dibandingkan dengan keberadaan etnis suku Simalungun , Karo, Mandailing yang dominan lebih dahulu berperadaban maju. Hal ini dapat dilihat dari struktus sosial yang ada. Kerajaaan-kerajaan di tanah Simalungun dan karo telah mengadop system monarkhi modern, sebagai mana kerajaan Hindu-Budha terdahulu pernah berjaya di Sumatera, seperti Sriwijaya atau Majapahit. Batu tertulis yang ditemui di Padang Lawas , Pamatang Bandar Simalungun salah satu bukti adanya masa kejayaan peradaban  Hindu / Budha disana.
Fase kedua ialah masuknya era Islam ke Nusantara. Sebagai akibatnya , Raja-raja dan penguasa Simalungun, Karo dan Mandailing telah memeluk Islam, terlebih lagi setelah kerajaan Samudera Pasai menaklukkan negeri Simalungun, Karo dan Mandailing sebagai kerajaan satelit / taklukannya. Fenomena diata sangat jelas membedakan jika dibandingkan dengan peradaban etnis suku Toba yang mendiami pengunungan (Bukit Barisan) di daerah Toba Holbung dan Samosir.

Banyak lagi fenomena-fenomena yang sebetulnya tidak terjadi begitu saja. Jika dianalisa maka semua akan dapat diurai dan dapat kita pahami keberadaannya. Bukan berarti kita fokus menelaah sisi negatifnya saja , namun kita melihat segi positifnya untuk kita jadikan sebagai dasar perbaikan dan perbaikan lagi. Artinya, kita mengambil sikap terbuka dan tidak responsif berlebihan. Kita tidak perlu menjadi tertutup dan menghakimi perbedaan pendapat. Baiklah kita saling memagari dengan menghormati pengertian orang lain.

Fenomena alam jelas-jelas membentuk siklus peradaban. Sebagai contoh , kita tentu sama-sama mengetahui keterbelekangan saudara kita diaspora Samosir. Kenapa ? Fenomena Alam ! Keterbelakangan peradaban , komunikasi, informasi … ini terjadi terus menerus..sejak dahulu ! Hal ini juga otomatis membangun karakter dan cara berfikir individunya, kegerasi ke generasi…. Ini realita, sama seperti saudara kita di Mentawai , Siberut , Rote, dan lainya.


Leave a comment

Arsip Bakkara : Sisingamangaraja XI

Pada tahun 1884, Pendeta Pilgram menyelamatkan setumpukan kertas-kertas tulisan tangan, Tulisan Batak, Bahasa Batak, yang merupakan Arsip dari Singamangaradja XI. Selanjutnya disebutkan “Arsip Bakkara”. Arsip-arsip ini saat ini dimiliki oleh  Collection Poortman di Voorburg Holland ( Belanda).

Arsip Bakkara terdiri atas kertas ukuran foolscap. Arsip Bakkara telah dikemas secara modern, ditulis secara satu-persatu lembar dan kemudian kemudian dijilid ,  Mmsing-masing jilid-an tebalnya 5 centimeter tebalnya. Arsip Bakkara terdiri atas 23 jilid. Keseluruhan Arsip tersebut dikemas setebal 50 cm. Setiap jilidnya diperkuat dengan helai kain katun  serta kulit kerbau , sehingga kemasan Arsip Bakkara tersebut sangat kuat.  Tinta yang digunakan adalah tinta Cina, yang tahan lama dan tahan air. Pena yang digunakan bukanlah pena runcing. Sangat mungkin alat yang digunakan (sebagai biasanya) ialah lidi dari batang daun pohon Aren.

Jilid 1 sampai  jilid 10 berisikan sejarah kerajaan termasuk catatan mengenai 90 generasi  Dinasti Sori Mangaradja  di Siandjur Sagala Limbong Mulana, dikaki Gunung Pusuk Buhit. Jilid 11 sampai  jilid 23 berupa catatan mirip ensiklopedi tentang pemerintahan Singamangaradja XI di Bakkara, Toba.


Leave a comment

MANTAB : VISI-MISI KAB. SIMALUNGUN 2010-2015

Tentang Visi dan Misi Pembangunan Kabupaten Simalungun lima tahun kedepan, Bupati Simalaungun DR. JR Saragih  mengatakan bahwa terwujudnya masyarakat dan daerah Kabupaten Simalungun yang makmur perekonomian, adil, nyaman, taqwa, aman dan berbudaya” (MANTAB). Untuk mewujudkan Visi itu, Pemkab Simalungun harus mengupayakan peningkatan dan perbaikan di segala sektor. Di akhir sambutan tersebut Bupati mengharapkan agar seluruh SKPD memberikan masukan dalam penyempurnaan rancangan RPJMD ini, sehingga menjadi dokumen perencanaan yang nantinya menjadi pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Simalungun kedepan.

SIMALUNGUN MANTAB ,” makmur perekonomian, adil, nyaman, taqwa, aman dan berbudaya.”

Arah kebijakan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Tahun Anggaran 2010-2015, berdasarkan hasil evaluasi kebijakan pembangunan sebelumnya  serta melihat kebutuhan pembangunan saat ini dan lima tahun kedepan telah diidentifikasi beberapa isu strategis, yang kemudian diangkat sebagai Visi dan Misi 2010-2015, antara lain tingkat pendapatan rakyat yang masih rendah, ketertinggalan perkembangan nagori, infrastruktur pedesaan yang sangat kurang dan kesempatan bekerja dan berusaha terbatas, kualitas pendidikan yang semakin menurun, kualitas pelayanan kesehatan yang sangat memprihatinkan, serta terabaikannya nilai-nilai agama dan budaya.

Bupati Simalungun juga mengatakan bahwa Pemkab Simalungun telah menyelesaikan penyusunan  Rancangan RPJMD Kab Simalungun tahun 2010-2015 yang merupakan kebijakan lima tahun kedua dari RPJPD tahun  2005-2025, yang mencakup, pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, mengurangi angka kemiskinan, penanggulangan kemiskinan, penanggulangan pengangguran, modernisasi sistem dan usaha agribisnis, diversifikasi produk-produk tanaman pangan, revitalisasi sistem ketahanan pangan, pengembangan tujuan/daerah wisata potensial dan  peningkatan pelayanan publik.

Bertempat di Ruang Harunggan Kantor Bupati Simalungun Pamatang Raya, Senin, 20/12/2010, Musyawarah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD)  Kabupaten Simalungun tahun 2010-2015 dibuka secara resmi oleh Bupati Simalungun, yang diwakili Plt Sekda Drs Ismail Ginting M.Si


Leave a comment

Pesta Tugu Raja Silahi Sabungan 2010

Deklarasi Keturunan Raja Silahisabungan

Berlangsung selama tiga hari, Pesta Luhutan Bolon Pomparan Raja Silahisabungan ( Pesta Tugu) berlangsung sukses dan meriah. Tahun 2010 ini, tampil sebagai Bolahan Amak alias Tuan Rumah adalah turpuk (klan) Sondiraja, urutan ketiga dari delapan turpuk (klan) keturunan Raja Silahisabungan. Marga-marga yang termasuk dalam Klan Sondiraja adalah Rumasondi, Rumasingap, Silalahi Raja Parmahan (Balige), Naiborhu, Sinurat, Nadapdap dan Doloksaribu.

Tua Ni Gondang

Kegiatan Luhutan Bolon Pomparan Raja Silahisabungan ini rutin dilangsungkan setiap tahun yang dilakukan di pelataran Tugu Makam Raja Silahisabungan di Desa Silalahi Kec.Silahisabungan Kab.Dairi. Adapan kedelapan turpuk (klan) keturunan Raja Silahisabungan secara bergantian bertindak sebagai Tuan Rumah (Bolahan Amak). Turut hadir Hula-hula Raja Silahisabungan dari klan Padangbatanari dan klan Nairasaon . Dalam kegiatan ini, dilakukan kembali ikrar bersama Poda Sagu-sagu Marlangan oleh seluruh Pomparan Raja Silahisabungan, untuk menyegarkan kembali diantara seluru keturunan Raja Silhisabungan. Hal ini dirasakan perlu sebagai counter dari beberapa pemberitaan tentang raja Silahisabungan yang mencoba merongrong tatanan Poda Sagu-sagu Marlangan dan tarombo Raja Silahisabungan oleh kelompok orang-orang dari Silalahi Raja.

Deklarasi itu menyinggung bahwa Tarombo Raja Silahisabungan sejak awal dan sampai sekarang tidak pernah berubah. Propaganda yang dilakukan Silalahi Raja merupakan  provokasi bagi Pomparan Silahisabungan.  Dengan Deklarasi tersebut adalah penekanan kembali tentang kesatuan niat dan tekad seluruh Pomparan Silahisabungan.  Selama ini Propaganada Silalahi Raja yang didukung oleh sekelompok klan marga yang lain terus bergulir, terutama di dunia maya dan mass media. Salah satu ciri mereka ialah dengan sengaja mengucapkan plesetan sebutan Silahisabungan menjadi Silalahi sabungan.  Untuk itu semua kita harus introspeksi dan mengikuti ucapan yang benar, yaitu Silahisabungan!


1 Comment

MARGA SILALAHI DI TOLPING / PANGURURAN SAMOSIR

Marga Silalahi

Jauh sebelum lahirnya Bius Tolping, negeri Tolping merupakan bagian dari Bius Ambarita, yang dikuasai oleh keturunan Naiambaton (Parna).

DARI BIUS TOLPING SAMPAI KE PARBABA , SAMOSIR.
Menyimak komposisi marga-marga yang secara sah mendiami tanah Tolping diketahui bahwa mereka adalah marga-marga pendahulu yang mendiami negeri tersebut. Itu sebabnya mereka disebut dengan SIPUKKA HUTA dalam satu BIUS. Kelompok BIUS adalah pemangku sah akan tanah-tanah di seluruh bius (negeri) tersebut. Dan ini bukan sembarang , karena pembentukan satu BIUS dilakukan dengan sakral dan terhormat.

Komposi marga-marga SUHUT di ranah [golat] Tolping , Ambarita Samosir, dikuasai oleh campuran berbagai marga, di antaranya : Raja Bona ni Ari (marga Sihaloho), Raja Pande Nabolon (marga Silalahi), Raja Panuturi (marga Silalahi), Raja Panullang (marga Sigiro), Raja Bulangan (marga Sidabutar – Nai Ambaton), Raja Pangkombari ( marga Siallagan). Perlu dicatat juga bahwa sebeumnya negeri TOLPING merupakan bagian dari bius Ambarita, setelah sekian waktu kemudian mereka membentuk bius tersendiri. Perlu dicatat, keberadaan Siraja Tolping tidak pernah masuk dalam komposisi Bius Tolping.

Pertanyaannya, jika bukan kebohongan belaka, lalu dimanakah Siraja Tolping Silalahi saat Horja Bius Tolping Ambarita dilakukan ?

Sebuan catatan, asal marga Silalahi di Tolping  diawali dari yaitu keturunan keturunan Raja Partada. Raja Partada ialah anak dari Bursokraja dari hasil pernikahannya dengan Boru Sianturi, Raja Muara (Catatan red. : Bursokraja adalah yang  meninggalkan Silalahi Nabolak dan sebelumnya merantau ke Panguruan dan menikahi putri Simbolon Tuan. Bursokraja juga menamai dirinya Ompu Sinabang alias Ompu Lahisabungan).  Sampai saat ini, makam / tambak Ompu Lahisabungan ada di Dolok Paromasan ( tanah pebukitan khusus tempat pekuburan ) di Pangururan , Samosir. Keturunan Raja Partada kemudian memakai marga Silalahi, khususnya mereka yang berdiam di sekitar negeri Tolping dan Pangururan. Sejak Horja Bius Tolping pula, maka saat ini, dari Tolping Ambarita sampai ke Parbaba , Buhit, Pasir Putih dan Pangururan, marga-marga keturunan Raja Silahisabungan sejak itu telah mendiami sepanjang pesisir daerah Samosir  ini. Selain di Tolping, Busokraja juga memiliki seorang anak di Pangururan dari hasil pernikahan Bursokraja dengan seorang putri (Boru Simbolon), yaitu Sipantang yang juga memekai marga Silalahi. Konon keturunan Sipantang juga memakai marga Silalahi yang turun temurun menjadi Raja Parboruon puak Simbolon di Pangururan.

DARI BIUS SITOLU HAE DI PANGURURAN, SAMOSIR
Demikian halnya di Pangururan. Kelompok BIUS di Pangururan Samosir, keberadaan marga Silalahi tidak termasuk dalam kategori marga suhut. Hal ini terlihat jelas dari posisi marga Silalahi yang hanya sebagai Raja Parboruon diantara marga Raja Tanah (Partano Golat) atau marga Suhut ni huta di negeri Bius Pangururan. Disebut Sitolu Hae Horbo , awalnya menyatakan keberadaan 3 marga Sipungka Huta negeri Pangururan, yaitu marga : Naibaho,  Sitanggang dan Simbolon. Dari marga tanah ( suhut ni huta ) inilah kemudian terbentuk Raja Partali dari marga-marga pendatang yang menjadi bagian (parboruon) marga Suhut ni huta , misalnya : Dari marga Naibaho, dibentuk Raja Partali Naibaho yang terdiri dari marga Siahaan, Hutaparik, Sitangkaran, Sidauruk, dan Siagian. Sedangkang marga Sitanggang, dibentuk Raja Partali Sitanggang, Sigalingging, Malau, dan Sinurat. Kemudian dari marga Simbolon, dibentuk Raja Partali Simbolon, Tamba, Nadeak, dan Silalahi.

( Perhatikan : Pada fase ikatan Bius Sitolu Hae di Pangururan, posisi marga Silalahi dan Sinurat adalah sama / selevel ). Artinya Silalahi adalah satu generasi dengan Sinurat, yaitu cicit Raja Silahsabungan.

Fakta ini membuktikan status kekerabatan antara marga Silalahi dengan marga Simbolon di Bius Pangururan, dimana mempoisikan tingkat (hanya karena sebagai boru / pendatang) dari marga Silalahi di Bius Pangururan, hal ini  karena marga Silalahi adalah pendatang di Bius Pangururan dan juga hanya sebatas menjadi Boru dari Simbolon Tuan saja!  Ini artinya tidak semua marga Simbolon memiliki hubungan kekerabatan (tutur) Boru kepada marga Silalahi di Pangururan.

Selain itu, pada Horja Bius  Sitolu Hae dapat kita perhatikan ada marga Sinurat dan Silalahi (keduanya keturunan Raja Silahisabungan ). Kita tau bahwa marga Sinurat merupakan generasi (cucu ) dari Raja Parmahan Silalahi di Toba, Balige. Artinya, Sinurat dan Silalahi sebagai pendatang ( boru ) di Pangururan adalah fakta dalam fase waktu yang bersamaan. Silalahi Tidak lebih dulu ada di Pangururan, karena Bius Sitolu Hae merupakan pengukuhan keberadaankaum/marga di ( Bius ) Pangururan. Hal ini juga jelas bahwa keturunan Simbolon Tuan yang mengakui keberadaan Silalahi sebagai Boru Sihabolonan klan Simbolon di Pangururan, bukan Raja Silahi Sabungan,   sebagaimana “kebohongan” atau kamuflase yang sering dikatakan sekelompok  Silalahi tertentu.

Rap Renta Pomparana Raja Silahisabungan 2010

Jelaslah sudah , ini adalah relevansi dan dasar pernyataan bahwa Raja Silahi Sabungan tidak pernah berdiam atau tinggal di Pangururan Samosir atau di Tolping Ambarita.  Keberadaan marga Silalahi di kedua negeri ini adalah dimulai oleh keturunan Raja Silahi Sabungan dari Silalahi Nabolak. Lagi pula, sebahagian besar keturunan Raja Silahi Sabungan di Tolping / Pangururan bukan kalangan Silalahi saja.

Keturunan Raja Silahisabungan  mengakui TAROMBO RAJA SILAHI SABUNGAN (2 Istri dan 8 anak keturunannya) sebagaimana di Bona Pasogit, Silalahi Nabolak. Diluar dari pada itu, mungkin perlu dipertanyaan mereka berasal dari mana atau dari mana keberadaan mereka dari antara * anak keturunan Raja Silahi Sabungan. (?)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.